Kegiatan tersebut dilaksanakan pada saat kunjungan kerja Bupati Don di Kelompok Dasawisma Ngusa Mula – Kelurahan Wolopogo, Kecamatan Boawae, Kamis 03 Mei 2021.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut, ibu Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Nagekeo, Ny. Eduarda Prawita Gati, Kadis Pertanian Oliva Monika Mogi SP. , Kadis Peternakan Ir. Klementina Dawo, Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Remigius Jago,ST.MT, Silvester Ajo Tape, S.Hut dari UPT Kesatuan Pengelola Hutan Nagekeo,
Koordinator Area Flores Yayasan Bambu Lestari Pak Paskalis Lalu, Camat Boawae Vitalis Bay bersama jajarannya, Lurah Wolopogo Yosefina S.S.U.Boleng bersama Jajarannya serta Para Pengawas SD dan Kepala Sekolah radius kelurahan tersebut.

Pembibitan bambu binaan Yayasan Bambu Lestari merupakan Program PKK provinsi NTT bekerjasama dengan Yayasan Bambu Lestari dan juga Dinas Kehutanan Provinsi NTT.

Program ini baru pertama kali dilakukan di Kabupaten Nagekeo dan tahun 2021 Nagekeo mendapat alokasi anggaran untuk di dua desa yakni Desa Wolopogo ( Kelompok Dasawisma Ngusa Mula ) dan Desa Wolowea ( Kelompok Dahlia).
Masing masing kelompok beranggotakan 25 orang ibu-ibu, sehingga total ada 50 orang Ibu- ibu menjadi pelopor pembibitan bambu di Nagekeo.
Tiap ibu wajib mengelola 2000 bibit bambu.

Kedua desa tersebut dipilih karena adanya ketersediaan bambu dan ketersediaan air yang cukup untuk pembibitan serta masuk dalam kawasan perhutani.

Yaysan Bambu Lestari sebagai Lembaga yang mendorong pengembangan desa bambu, melakukan upaya upaya advokasi untuk mendorong adanya kebijakan yang insklusif yang mendukung pengembangan desa bambu serta pengelolaan bambu dari hulu, tengah hingga hilir, sejak dari pembibitan, pengelolaan perhutanan hingga industry bambu seerta pemanfaatan bambu untuk layanan public maupun industry komersial.
Sistem bambu lestari merupakan sistem yang dibuat oleh Yayasan Bambu Lestari sebagai salah satu upaya pengelolaan hutan bambu yang tanpa melepaskan kelesetarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.

Koordinator Area Flores Yayasan Bambu Lestari Pak Paskalis Lalu, dihadapan Bupati Don dan rombongan menjelaskan secara singkat mulai proses pembibitan sampai dengan penanaman ( menggunakan media Polibag).

Menurut Paskalis mengapa harus ibu-ibu yang menjadi pelopor??

“Pernah melakukan praktek terhadap pengelolaan oleh bapak bapak, itu perhatiannya kurang.
Ibu-ibu punya pusat perhatian yang lebih.
Bapak – bapak dapat membantu untuk bagian mengambil bibitnya.
Memang yang setengah mati itu proses diawal pembibitan.

Diujung proses ini..
Pertama, kita hargai ibu ibu dengan 1 polibag Rp.2.500, dalam 3 bulan sudah menghasilkan 25 daun dengan Rp 2.500 berarti pendapatan ekonomi sudah sangat terbantu.
Kedua bagaimana ibu ibu kita ajarkan selain bibit ini kita pindahkan ke lokasi permanen, ada juga usaha yang namanya usaha rebung untuk konsumsi kita.
Itu tekad kami yang pasti akan kami lakukan.

Target kami di Nagekeo yang pertama adalah pembibitan dan terlebih dahulu kami lakukan pendataan. Ketersediaan bambu merupakan kunci utama dalam pengembangan desa bambu..

Kepada Bupati Nagekeo, Paskalis berharap agar kedepannya ada orang muda Nagekeo yang belajar di Kampus Agroforestri Bambu..
” Kami juga menginginkan para pemuda pemuda Nagekeo bisa belajar di kampus kami, nanti mereka akan belajar disana dan dididik oleh para ahli bambu. Dengan harapan suatu saat mereka akan membangun rumah dari bambu.

Yang sangat sulit untuk kita NTT khususnya Flores itu “tukang bambu” sehingga kita datangkan dari Jogja dan juga Bali.
Kita lagi mendidik anak muda kedepan walaupun kita bayarkan HOK nya karena mereka kerja bangunan dan mereka juga kita latih keterampilannya. Kita juga datangkan khusus arsitek bambu untuk melatih mereka.”

Bupati Don pada kesempatan tersebut mengatakan, ini luar biasa.
Ini lebih dari pemerintah.
Ini “best practice”.
Ini satu contoh dimana sebuah lembaga merangsang disektor hulu, diproduksi ketersediaan ini dengan berjibaku habis habisan.
Beri insentif ke kita itu Rp2.500/polibag yang jadi…Ini luar biasa.

Kita bersyukur bahwa kita dapat rahmat melalui Yayasan Bambu Lestari.

Gubernur dalam kunjungannya dua minggu yang lalu sudah bilang siapa yang miliki bambu dia akan kaya raya dimasa yang akan datang. Bangunan- bangunan kedepan banyak yang konstruksinya dari bambu. Teknologi pengolahan bambu sudah makin bagus banyak sekali bangunan yang akan diganti dengan bambu, kecuali mungkin gedung pencakar langit yang butuh skill tinggi.

Sekarang baru kita ketemu media untuk kita bisa bekerja dan saya bisa tagih di Wolopogo.

Pertama, kita data rumpun bambu di kelurahan Wolopogo.
” Secara sukarela mau masuk yang didaftar dalam program ini atau yang biasa, mana area yang mau kita tanam. Memang dalam satu hamparan mungkin susah. Bedasarkan penjelasan dari pihak yayasan dalam area tertentu pada beberapa tempat kita bisa menanam.

Pekerjaan berat kita ada di hulu.
Bagaimana merubah kebiasaan, kemudian kita mengkategorikan kebutuhan masyarakat.**

Kegiatan diakhiri dengan penanaman bibit bambu dalam media Polibag oleh Bupati Nagekeo.


**
Protokol dan Kompim
(Merry /Tim Humas NGK)

Hits: 132

Translate »