You are here: Home

Ada sinar didesa Tedamude

Lokasi PLTS Tedamude di Malabay Lokasi PLTS Tedamude di Malabay

Prudensia Goreti (38), baru saja selesai merapikan ruang tamunya. Tak lama kemudian, televisi lcd 21 inch dimatikan. Diapun meminta salah satu puteranya mematikan saklar diruang PLTS ( Pembangkit Listrik Tenaga Surya ) disamping rumahnya. Katanya untuk menghemat penggunaan listrik sekaligus mengisi daya matahari.

 

" Kalau siang mendung begini PLTS kami matikan. Ini acara bola rumah ramai sekali. Itu tembok sampai jebol ", katanya seraya menunjuk kearah dinding yang nampak berlubang.

 

Prudensia adalah salah satu warga yang telah lama menetap di Malabay didesa Tedamude, kecamatan Aesesa. Bagi warga desa Tendamude televisi adalah media informasi dan hiburan satu-satunya didesa mereka. Ada sekitar tujuh rumah yang memiliki televisi didesa ini.

 

Semuanya mengakses siaran melalui antena parabola. Pagi itu sebagaian warga baru saja selesai menyaksikan salah satu pertandingan diajang Copa America 2016.

 

" Kalau nonton bola kami harus isi paket ", ujarnya. Paket yang dimaksud adalah voucher siaran televisi berbayar. Meskipun harus mengeluarkan biaya untuk sebuah program yang ditonton masih ada rasa syukur yang dirasakan. Pasalnya, aliran listrik yang terdapat didesa Tedamude semuanya gratis.

 

" Lumayanlah pak, sekarang nonton tv tidak perlu genset lagi. Kami juga tidak pakai lampu pelita kalau malam. Dulu, warga disini lancar beli minyak tanah. Yang punya genset harus siap sedia dengan solar", ungkap ibu dari lima orang anak ini yang juga istri dari Kepala Desa Tedamude.

 

Sebelumnya,  rata-rata setiap rumah tangga didesa ini menghabiskan minyak tanah tiga liter setiap minggu untuk kebutuhan penerangan.

 

Kehadiran PLTS didesa Tedamude sejak tiga tahun lalu disambut gembira oleh warga. Keluhan tentang listrik akhirnya terjawab sudah melalui program bantuan infrastruktur energi Kementrian Daerah Tertinggal pada tahun 2013 silam. Setidaknya keluhan asap pelita yang dirasakan anak-anak ketika belajar sirna sudah.

 

Desa Tedamude terletak sekitar 23 km dari Mbay, ibukota Kabupaten Nagekeo. Topografi yang cukup sulit menjadikan desa ini cukup jauh dari jangkauan listrik PLN. Didesa ini terdapat 157 kepala keluarga dengan penduduk sebanyak 871 jiwa.

 

Pada tahun 2013 silam, Kementrian Daerah Tertinggal memberikan bantuan PLTS melalui Dinas Tata Kota Nagekeo dengan daya sebesar 10KWp. Ada 60 buah rumah dan 2 buah fasilitas umum ( Kantor Desa dan Puskesmas Pembantu) yang dialiri listrik PLTS. Masing-masing rumah diberikan 3 buah lampu.

 

Sistim yang digunakan yaitu PLTS terpusat, dimana seluruh panel dan komponen tenaga surya terpusat disatu lokasi. Selanjutnya listrik dialirkan melalui kabel ke rumah-rumah. Kurang lebih ada sekitar 1 km bentangan kabel diatas puluhan tiang yang melintasi desa.

 

Menurut Sekertaris Desa Tedamude, Didakus Dari  (49),  kehadiran PLTS didesanya merupakan salah satu upaya, semangat dan kerjasama yang baik dari warga bersama pemerintahan desa.

 

" Waktu dengar kabar ada program bantuan dari kementrian, bapa desa langsung ajak rapat dan sepakat bersama warga buat proposal. Saat itu fasilitas dan SDM sangat terbatas. Kemudian dengan bantuan dan  arahan dari Dinas Tata Kota Nagekeo dan kerjasama warga akhirnya proposal itu dijawab ", ungkapnya.

 

Meskipun kebutuhan listrik belum bisa terpenuhi bagi seluruh warga, Didakus optimis program pemerintah tidak akan pernah melupakan desanya.

 

" Tahun 2015 lalu kami juga mendapat bantuan listrik tenaga surya untuk 40 rumah. Tapi tidak sama dengan kami yang terpusat,  masing-masing rumah dapat 1 buah panel surya dengan tiga buah lampu.  Pemerintahan desa saat ini juga sementara buat proposal untuk rumah-rumah yang belum dapat listrik ", sambungnya.

 

Sampai saat ini sudah setengah dari total jumlah kepala keluarga diempat kampung yang mendapat pasokan listrik tenaga surya.

 

Setiap rumah pengguna PLTS diwajibkan membayar iuran sebesar Rp. 10.000 setiap bulan. Iuran ini merupakan keputusan bersama oleh warga dan pemerintahan desa yang selanjutnya dipakai untuk biaya perawatan yang dilakukan oleh  lima orang anggota OMS (Organisasi Masyarakat Sosial ).

 

Sepanjang tiga tahun berjalan sampai saat ini belum ada kendala kerusakan yang dialami PLTS Tedamude.

 

( Foto & Teks oleh : Yanto Mana Tappi, Bid, Kominfo Nagekeo )

Read 1425 times