You are here: Home

"Etu" dikukuhkan menjadi Warisan Budaya Nasional

Kemendikbud RI melalui Dinas PPO Nagekeo menyerahkan Surat Penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia kepada Bupati Elias Djo yang didampingi Wabup. Paulinus N. Veto, Bupati Ngada,Marianus Sae dan Ketua DPRD Nagekeo Marselinus A. Bupu diacara Etu Kampung Boawae, Senin (20/6/16). Kemendikbud RI melalui Dinas PPO Nagekeo menyerahkan Surat Penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia kepada Bupati Elias Djo yang didampingi Wabup. Paulinus N. Veto, Bupati Ngada,Marianus Sae dan Ketua DPRD Nagekeo Marselinus A. Bupu diacara Etu Kampung Boawae, Senin (20/6/16).

Etu atau ritual tinju adat etnis Nagekeo ditetapkan menjadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Anies Baswedan. Penetapan ini melalui surat keputusan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, pada tanggal 20 Oktober 2015 di Jakarta yang ditandatangani oleh Mendikbud, Anies Baswedan.

 

Sebelumnya, keputusan warisan budaya ini telah melalui Sidang Penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia Tahun 2015 yang dilaksanakan pada tanggal 20-23 September 2015 di  Jakarta. Dalam sidang ini diputuskan sebanyak 121 karya budaya untuk ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

 

Seperti yang dilansir dari laman Kemdikbud.go.id, 121 karya budaya itu disaring dari 339 usulan karya budaya yang diterima oleh Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya Kemendikbud. Karya budaya yang dimaksud terdiri dari seni pertunjukan, ekspresi lisan, kemahiran dan kerajinan tradisional, adat istiadat masyarakat, serta tradisi dan ekspresi lisan dari berbagai daerah di Tanah Air.

 

Menanggapi peristiwa ini, budayawan Nagekeo, Cyrilus Bau Engo mengucapkan apresiasinya dan terimakasih kepada pemerintah RI. Menurutnya, ritual Etu adalah warisan budaya yang sudah turun temurun di Kabupaten Nagekeo maupun Ngada. Penetapan Etu sebagai warisan budaya nasional dinilai sudah tepat.

 

" Budaya ini (Etu), sangat khas, sehingga pemerintah tidak gegabah menetapkannya sebagai salah satu warisan budaya nasional", katanya.

 

Menurut mantan anggota DPRD NTT ini, meskipun Etu adalah ritual adu fisik tapi tidak pernah mengajarkan dendam. Tradisi ini merupakan salah satu ritual untuk bersyukur atas hasil panen sekaligus persembahan bagi tuhan dan leluhur. Darah yang keluar dalam pertarungan Etu dianggap sebagai persembahan bagi bumi pertiwi.

 

Kedepannya, tokoh adat Nagekeo ini juga berpendapat para pemangku adat perlu menuliskan seluruh proses Etu sebagai salah satu cara meregenerasi budaya.

 

" Kalau selama ini dengan budaya lisan, sekarang sudah saatnya dengan menuliskan seluruh proses Etu. Karena dalam ritual ini ada nyanyian, doa, tarian dan persembahan bagi leluhur yang perlu dilestarikan ", ujarnya.

 

(Foto & teks oleh : Yanto Mana Tappi, Bid. Kominfo Nagekeo)

Read 1546 times