You are here: Home

Mengurai nasib diaroma cengkeh

Buruh harian sedang memetik cengkeh di Wolosambi Buruh harian sedang memetik cengkeh di Wolosambi

Teriakan seorang lelaki dari balik pepohonan memecah keheningan. Tak lama berselang terdengar nyanyian dan suara tawa seorang perempuan. Wujud mereka tak nampak dibawah pohon.

 

Hanya  tangga kecil dari sebatang bambu panjang sebagai jejak mereka. Beberapa orang diujung tangga itu adalah para pemetik cengkeh. Tak ada urusan dengan rasa takut berada diatas pohon.

 

Mayoritas pohon cengkeh yang tumbuh diwilayah kecamatan Mauponggo, kabupaten Nagekeo ini berusia diatas 25 tahun. Tingginya bisa mencapai diatas 20 meter.

 

Para pemetik cengkeh ini merupakan kelompok buruh harian yang datang dari wilayah kabupaten Manggarai Timur. Ada sekitar lima orang dalam sebuah kelompok.

 

Herman (27), adalah salah satu buruh pemetik yang sudah sudah hampir seminggu di Mauponggo.  Bersama istri dan tiga orang rekannya, Herman berangkat dari Waelengga, salah satu wilayah di Manggarai Timur. Baginya, ini bukan pertama kali bekerja di Mauponggo.

 

“  Saya dengan satu orang teman sudah tiga kali kerja disini. Istri dengan yang lain itu saya yang ajak, daripada nganggur dikampung”, katanya.

 

Sebenarnya Herman dan rekannya adalah petani sawah dikampung mereka. Sembari menunggu panen dipenghujung bulan Oktober, mereka mengadu nasib sebagai pemetik cengkeh di Mauponggo.

 

Rata-rata upah harian yang diterima para pekerja ini sebesar Rp. 60.000, diluar tanggungan makan dari pemilik kebun cengkeh. Namun,ada pula pemilik kebun yang berbaik hati bersedia menanggung makan tiga kali sehari.

 

“  Sekarang ini susah pak. Tahun lalu masih mendingan. Sekarang hasil sedikit saja. Saya rasa kami kerja tidak bisa sampai satu bulan “, ungkap Herman.

 

Tak bisa dibantah, anomali tahun 2015 lalu menyebabkan panas berkepanjangan. Imbasnya, banyak pohon cengkeh yang tidak mampu menghasilkan bunga. Banyak pohon meranggas diterpa hawa panas.

 

Kata Herman, tahun 2014 silam bisa menghasilkan 7-8 karung atau 60kg setiap pohon. Sekarang sekitar  5 karung.

 

Beberapa petani mengeluhkan pohon cengkeh mereka ada yang mati. Banyak pohon yang bertahan hanya karena terlindungi kanopi pohon-pohon besar. Sebagian terus bertahan dikondisi tanah yang cukup lembab.

 

“ Yang diwilayah dekat pantai cukup parah. Pohon yang mati mereka sensor untuk buat rumah “, ungkap Andreas Ceme (50), salah satu petani  cengkeh di Wolosambi, Mauponggo.

 

Menurutnya, kondisi seperti ini mulai terasa dari tahun 2015 lalu. Andreas memiliki 20 pohon cengkeh yang masih hidup. Kata dia, tahun lalu ada dua pohon yang mati. Selanjutnya ditahun ini tiga pohon ikut mati.

 

Kecamatan Mauponggo adalah salah satu daerah diwilayah selatan penghasil cengkeh yang ada di kabupaten Nagekeo. Disamping komoditi kemiri, cokelat dan kelapa, cengkeh merupakan tabungan utama bagi kelangsungan hidup mereka.

 

Tanaman cengkeh mulai dikembangkan sejak tahun 1980-an. Ketika melihat pada harga yang sangat menjanjikan,beberapa komoditi lain terpaksa dikorbankan. Dengan semakin pesatnya perkembangan cengkeh, ekonomi penduduk terus meningkat. Rumah tembok permanen tumbuh subur dipelosok kampung. Kaum petani menjadi lebih professional. Sebagian telah memiliki mobil untuk membantu distribusi hasil kebunnya. Cengkeh menjadi ladang emas mereka.

 

Cerita Andreas,  sekitar tahun 2000-an harga cengkeh cukup fantastis. Mencapai Rp.125.000/kg. Tahun itu banyak yang mulai bangun rumah batu. Ada yang beli oto “, katanya.

 

Andreas hanya mengandalkan tanaman cengkeh sebagai nafkah keluarga. Masih ada dua orang anaknya dibangku kuliah. Dia berharap harga cengkeh akan naik, setidaknya Rp.100.000/kg.

 

“ Ini macam berjudi pak. Sekarang ini masih harga delapan puluh ribu. Dengan hasil sedikit begini saya tahan dulu. Yang saya jual ini untuk bayar anak dana (buruh). Mau jual sekarang belum bisa, tahan-tahan dulu dengan jual kemiri “, ungkapnya.

 

Kondisi seperti ini juga diamini oleh Antonius (65), salah satu petani di Wolosambi. Menurutnya, beberapa pohon cengkeh yang mati oleh karena panas panjang. Selama ini kata dia, tanaman cengkeh di Mauponggo hampir tidak pernah terserang penyakit.  Tidak ada perlakuan khusus bagi perkembangannya. Produktifitas cengkeh diwilayah Nagekeo hanya bergantung pada alam.

 

“ Kalau panas panjang hasil menurun. Kalau musim hujan panjang hasil juga turun”, katanya.

 

Bapak tiga orang anak ini mulai memahami fenomena alam tersebut sejak belasan tahun silam. Kala itu dia memilih bersahabat dengan komiditi cokelat dan kemiri disamping cengkeh yang menjadi andalannya.

 

“Banyak orang yang tebang cokelat untuk tanam cengkeh, tapi saya tidak. Disini tidak perlu pakai pupuk, kita cukup bersahabat dengan alam saja. Lihat saja, cengkeh kurang , cokelat ,kelapa jadi semua.  Intinya, disini tanahnya subur”, tegasnya.

 

Diatas lahan seluas 1 ha miliknya, Antonius memiliki puluhan pohon cengkeh,cokelat, kelapa dan kemiri. Setidaknya, dari hasil kebun itu dia telah berhasil meluluskan dua orang puteranya dibangku kuliah yang kini telah bekerja sebagai PNS ( Pegawai Negeri Sipil ) di Nagekeo.

 

Saat ini Antonius sedang melakukan pembibitan cengkeh yang diambil dari pohon diatas usia 40 tahun. Ada ratusan bibit yang telah berusia 7 bulan. Disamping untuk ditanam sendiri dia juga menjual kepada para petani lain.

 

Siklus panen tanaman cengkeh diwilayah Nagekeo dimulai dari bulan September hingga November. Rata-rata setiap pohon yang telah berusia enam tahun bisa menghasilkan 5kg cengkeh kering. Sedangkan pohon yang berusia diatas 25 tahun mampu menghasilkan 15-20kg cengkeh kering.

 

Topografi kecamatan Mauponggo menyimpan sejuta harapan bagi komoditi potensial. Meskipun siklus produksi cengkeh tidak stabil, petani tetap mengandalkan cengkeh sebagai tanaman primadona. Rata-rata para petani memiliki 30-50 pohon diatas kebun 1 ha. Banyak pula yang menanam dipekarangan rumah.

 

Bagi petani, cengkeh adalah tanaman emas. Daun dan batang sisa pemetikan tetap laku dijual. Andreas dan Antonius berharap harga cengkeh bisa stabil sehingga bisa mengatasi minimnnya hasil yang didapat.

 

( Yanto Mana Tappi, Bid. Kominfo Nagekeo )

 

Read 738 times