You are here: Home

NAGEKEO POTENSIAL PANGAN LOKAL

 

Dalam rangka memperingati Hari Pangan Sedunia (HPS) ke-36 Tingkat Kabupaten Nagekeo Tahun 2016, Pemerintah Daerah Kabupaten Nagekeo menyelenggarakan berbagai kegiatan di Desa Maukeli, Kecamatan Mauponggo, Selasa 25 Oktober 2016. Dalam kegiatan tersebut, dihadiri langsung oleh Wakil Bupati Nagekeo, Paulinus Yohanes Nuwa Veto, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM NTT, Richard Iman Santoso, Kasdim Kodim 1625 Ngada, M. Basuki, Wakapolres Ngada, Yosep Berelaka, Kasi Intel Kejaksaan Negeri Bajawa Maurits dan Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Nagekeo, Yulius Sambu.  Hadir juga Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Nagekeo, Epidiana Nago Djo, Para Camat, Para Kepala Desa/Lurah se-Kabupaten Nagekeo, PPL, Kader PKK, Undangan, serta Warga Masyarakat Desa Maukeli dan sekitarnya. Peserta memadati Aula dan kompleks Gereja Santo Mikhael Maukeli yang dipadukan dengan pameran pangan lokal dari setiap kecamatan, SMK Negeri 1 Aesesa, Politeknik Santo Wilhelmus Boawae dan PT Chettam Garam Flores.

Wakil Bupati Nagekeo, Paulinus Yohanes Nuwa Veto, dalam sambutannya mengatakan, rata-rata angka capaian skor pola pangan harapan (PPH) Kabupaten Nagekeo selama 5 tahun terakhir mencapai skor 70. Angka ini menunjukkan bahwa rata-rata pengaturan pola konsumsi masyarakat Nagekeo cukup proporsional dalam menentukan keragaman jenis dan jumlah pangan yang harus dikonsumsi untuk memenuhi prinsip makanan yang beragam, bergizi, seimbang dan aman (B2SA). Menurut Wakil Bupati Nagekeo, masih banyak masyarakat Nagekeo yang berprinsip bahwa makan untuk kenyang tanpa memperhatikan prinsip pola makan B2SA. Untuk itu, upaya Pemerintah untuk mendukung peningkatan ketahanan pangan dapat dilakukan melalui percepatan pengembangan pangan lokal dan perhatian serius terhadap penganekaragaman konsumsi pangan, “katanya. Beliau menegaskan kepada instansi yang membidangi dan peran lintas sektor terhadap program anggur merah, pengembangan desa mandiri pangan, lumbung pangan, lembaga distribusi pangan masyarakat (LPMD) dan pengembangan usaha agrobisnis pedesaan (PUAP), perlu disikapi secara seksama. Saat ini PUAP sudah mencapai 112 Desa/Kelurahan, dengan total dana pemberdayaan Rp 100.000.000 per desa, yang diberlakukan sejak tahun 2008 secara bertahap, sehingga totalnya sebesar Rp 11,2 Miliar dan sekarang berada di 112 Gapoktan, “tambahnya. Melalui kegiatan percepatan penganekaragaman konsumsi pangan (P2KP) di Nagekeo sejak tahun 2012 hingga 2015, telah terlaksana di 20 kelompok wanita dan 14 sekolah, dengan kisaran dana sebesar Rp 19 juta sampai Rp 50 juta, ditambah tahun ini 3 kelompok wanita tani di Kecamatan Aesesa, sekiranya dapat mempengaruhi pola konsumsi masyarakat, “ungkapnya.

Menurut laporan Kepala Badan Pelaksana Penyuluh Pertanian dan Ketahanan Pangan (BP3KP) Kabupaten Nagekeo, tercatat ada 16 jenis komoditas sumber karbohidrat, 5 jenis tanaman sereal, seperti: padi, jagung, jali, sorgum dan jewawut. Kemudian ada 8 jenis ubi-ubian, seperti: ubi kayu, ubi talas, ubi tatas, ubi tongkat, uwi gembili dan ganyong. Selain itu, ada 3 jenis kelompok buah, seperti: pisang, sukun dan labu kuning, serta 8 jenis kacang-kacangan, yakni: kacang hijau, kacang tanah, kacang kedelai, kacang turi, kacang tunggak, goli, kacang mente dan kacang koro.

 

Mbay, AKm, 26 Oktober 2016

By ADJ Administrator Bagian Administrasi Kemasyarakatan Setda Nagekeo

Email :  This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Read 1921 times