You are here: Home

PEMDA NAGEKEO GELAR DIALOG BUDAYA

 

     

 

 

 

 

 

 

 

 

     

 

 

 

 

      Jelang Hari Ulang Tahun (HUT) ke-10 Kabupaten Nagekeo pada 8 Desember 2016, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Nagekeo menggelar Dialog Budaya di 2 Kecamatan, yaitu Kecamatan Mauponggo pada Kamis (1/12) dan Kecamatan Boawae pada Jumat (2/12), yang tahun sebelumnya pernah diselenggarakan di Kecamatan Aesesa dan Kecamatan Aesesa Selatan. Kegiatan Dialog Budaya ini melibatkan 4 pembicara (narasumber), yakni: dari unsur akademisi Pater Dr. Philipus Tule, SVD yang membedahi pokok materi tentang “Pentingnya Dialog Budaya”, Bapak Cyrilus Bau Engo selaku praktisi yang membedahi pokok materi yang berkaitan dengan “Pentingnya Pelestarian Budaya”, Bapak Mikhael Dhae selaku Pemangku Adat Kecamatan Mauponggo untuk Dialog Budaya di wilayah Kecamatan Mauponggo, yang membedah pokok materi mengenai “Potret Budaya Kecamatan Mauponggo Antara Harapan dan Kenyataan”, serta Bapak Marselinus Lowa untuk Dialog Budaya di wilayah Kecamatan Boawae, dengan pokok materi, yaitu “Potret Budaya Kecamatan Boawae Antara Harapan dan Kenyataan”. Di dalam Dialog tersebut, melibatkan segenap unsur dan pemangku kepentingan, antara lain: para tokoh adat, pemerhati budaya, pakar dan praktisi budaya, tokoh masyarakat, serta pihak-pihak terkait lainnya. Tema yang diangkat oleh panitia penyelenggara adalah “Melalui Dialog Budaya, Kita Tingkatkan Pelestarian Warisan Budaya Daerah dan Nasional, Bagi Kemajuan Peradaban dan Martabat Manusia Sebagai Insan Berbudaya”. Kegiatan yang terjadi di Aula Kantor Camat Mauponggo dan di Aula Kantor Camat Boawae ini, berjalan dengan aman, tertib dan lancar, serta sampai selesai.

      Wakil Bupati Nagekeo, Paulinus Yohanes Nuwa Veto, dalam sambutan membuka kegiatan ini mengatakan bahwa, sampai saat ini unsur-unsur kebudayaan yang ada di sebagian suku masyarakat Nagekeo masih sangat kuat, sedangkan untuk beberapa wilayah lembaga adat masih menghadapi tantangan yang cukup besar, karena dipengaruhi oleh perubahan kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, serta nilai-nilai modern yang semakin kuat. Wakil Bupati Nagekeo menyampaikan bahwa, persoalan mendasar yang dihadapi adalah peran dan fungsi tokoh adat maupun lembaga pemangku adat dalam masyarakat adat yang semakin memudar, bahkan tidak diperhitungkan, sehingga identitas budaya dan penghormatan terhadap leluhur semakin luntur. Persoalan lain, yaitu kurangnya warisan budaya, kuatnya sikap egoisme dalam pergaulan masyarakat, serta belum adanya perhatian yang optimal terhadap pelestarian budaya melalui pendidikan formal, informal dan nonformal, “katanya. Jika hal-hal tersebut dibiarkan, maka bisa menjadi ancaman serius yang dapat mengakibatkan merosotnya nilai budaya, kepunahan warisan budaya dan kehancuran potensi budaya, konsekuensinya akan berdampak pada konflik hubungan di dalam dan di luar komunitas masyarakat adat, serta dapat menghambat pertumbuhan pembangunan di berbagai sektor, “ungkapnya.

      Dari hasil dialog budaya di kedua Kecamatan tersebut, melahirkan sejumlah rekomendasi berikut.

  • Adanya komitmen Pemda Nagekeo untuk merancang dan melaksanakan pembangunan kebudayaan Nagekeo berupa anggaran pro kebudayaan.
  • Adanya paradigma baru bagi para agen pembangunan rakyat dari Pemerintah, Swasta, LSM dan Akademisi untuk melibatkan diri secara kritis dalam semangat kemitraan.
  • Perlu ada tulisan mengenai ungkapan adat, ritual dan cerita rakyat yang selama ini diwariskan secara lisan, melalui buku Muatan Lokal di setiap tingkatan Pendidikan yang dihasilkan melalui penelitian, dokumentasi dan publikasi sejak dini dengan melibatkan para pakar dan praktisi budaya lokal.
  • Pemerintah tetap membuat program kegiatan pementasan seni budaya di tiap Desa, Kecamatan dan Kabupaten, serta pada HUT Nagekeo secara rutin.
  • Tanah ulayat jangan disertifikasi, jika disertifikat untuk kepentingan publik tetap dipertahankan, sedangkan untuk kepentingan pribadi perlu dikaji secara lebih baik.
  • Penyelasaian berbagai persoalan/masalah budaya dan sosial harus dilakukan melalui pendekatan budaya.
  • Perlu adanya Perda tentang produk budaya, ritual adat dan tanah ulayat. Hal tersebut akan dikaji lebih jauh lagi hal-hal apa yang akan diperdakan.
  • Penyelenggaraan dialog budaya harus dimulai dari tingkat Desa/Kelurahan.

Mbay, AKm, 05 Desember 2016

By ADJ Administrator Bagian Administrasi Kemasyarakatan Setda Nagekeo

Email :  This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Read 1668 times