You are here: HomeWisata Alam & Budaya

Wisata Alam & Budaya (5)

PEMDA NAGEKEO GELAR DIALOG BUDAYA

Written by Friday, 23 December 2016 12:39

 

     

 

 

 

 

 

 

 

 

     

 

 

 

 

      Jelang Hari Ulang Tahun (HUT) ke-10 Kabupaten Nagekeo pada 8 Desember 2016, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Nagekeo menggelar Dialog Budaya di 2 Kecamatan, yaitu Kecamatan Mauponggo pada Kamis (1/12) dan Kecamatan Boawae pada Jumat (2/12), yang tahun sebelumnya pernah diselenggarakan di Kecamatan Aesesa dan Kecamatan Aesesa Selatan. Kegiatan Dialog Budaya ini melibatkan 4 pembicara (narasumber), yakni: dari unsur akademisi Pater Dr. Philipus Tule, SVD yang membedahi pokok materi tentang “Pentingnya Dialog Budaya”, Bapak Cyrilus Bau Engo selaku praktisi yang membedahi pokok materi yang berkaitan dengan “Pentingnya Pelestarian Budaya”, Bapak Mikhael Dhae selaku Pemangku Adat Kecamatan Mauponggo untuk Dialog Budaya di wilayah Kecamatan Mauponggo, yang membedah pokok materi mengenai “Potret Budaya Kecamatan Mauponggo Antara Harapan dan Kenyataan”, serta Bapak Marselinus Lowa untuk Dialog Budaya di wilayah Kecamatan Boawae, dengan pokok materi, yaitu “Potret Budaya Kecamatan Boawae Antara Harapan dan Kenyataan”. Di dalam Dialog tersebut, melibatkan segenap unsur dan pemangku kepentingan, antara lain: para tokoh adat, pemerhati budaya, pakar dan praktisi budaya, tokoh masyarakat, serta pihak-pihak terkait lainnya. Tema yang diangkat oleh panitia penyelenggara adalah “Melalui Dialog Budaya, Kita Tingkatkan Pelestarian Warisan Budaya Daerah dan Nasional, Bagi Kemajuan Peradaban dan Martabat Manusia Sebagai Insan Berbudaya”. Kegiatan yang terjadi di Aula Kantor Camat Mauponggo dan di Aula Kantor Camat Boawae ini, berjalan dengan aman, tertib dan lancar, serta sampai selesai.

      Wakil Bupati Nagekeo, Paulinus Yohanes Nuwa Veto, dalam sambutan membuka kegiatan ini mengatakan bahwa, sampai saat ini unsur-unsur kebudayaan yang ada di sebagian suku masyarakat Nagekeo masih sangat kuat, sedangkan untuk beberapa wilayah lembaga adat masih menghadapi tantangan yang cukup besar, karena dipengaruhi oleh perubahan kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, serta nilai-nilai modern yang semakin kuat. Wakil Bupati Nagekeo menyampaikan bahwa, persoalan mendasar yang dihadapi adalah peran dan fungsi tokoh adat maupun lembaga pemangku adat dalam masyarakat adat yang semakin memudar, bahkan tidak diperhitungkan, sehingga identitas budaya dan penghormatan terhadap leluhur semakin luntur. Persoalan lain, yaitu kurangnya warisan budaya, kuatnya sikap egoisme dalam pergaulan masyarakat, serta belum adanya perhatian yang optimal terhadap pelestarian budaya melalui pendidikan formal, informal dan nonformal, “katanya. Jika hal-hal tersebut dibiarkan, maka bisa menjadi ancaman serius yang dapat mengakibatkan merosotnya nilai budaya, kepunahan warisan budaya dan kehancuran potensi budaya, konsekuensinya akan berdampak pada konflik hubungan di dalam dan di luar komunitas masyarakat adat, serta dapat menghambat pertumbuhan pembangunan di berbagai sektor, “ungkapnya.

      Dari hasil dialog budaya di kedua Kecamatan tersebut, melahirkan sejumlah rekomendasi berikut.

  • Adanya komitmen Pemda Nagekeo untuk merancang dan melaksanakan pembangunan kebudayaan Nagekeo berupa anggaran pro kebudayaan.
  • Adanya paradigma baru bagi para agen pembangunan rakyat dari Pemerintah, Swasta, LSM dan Akademisi untuk melibatkan diri secara kritis dalam semangat kemitraan.
  • Perlu ada tulisan mengenai ungkapan adat, ritual dan cerita rakyat yang selama ini diwariskan secara lisan, melalui buku Muatan Lokal di setiap tingkatan Pendidikan yang dihasilkan melalui penelitian, dokumentasi dan publikasi sejak dini dengan melibatkan para pakar dan praktisi budaya lokal.
  • Pemerintah tetap membuat program kegiatan pementasan seni budaya di tiap Desa, Kecamatan dan Kabupaten, serta pada HUT Nagekeo secara rutin.
  • Tanah ulayat jangan disertifikasi, jika disertifikat untuk kepentingan publik tetap dipertahankan, sedangkan untuk kepentingan pribadi perlu dikaji secara lebih baik.
  • Penyelasaian berbagai persoalan/masalah budaya dan sosial harus dilakukan melalui pendekatan budaya.
  • Perlu adanya Perda tentang produk budaya, ritual adat dan tanah ulayat. Hal tersebut akan dikaji lebih jauh lagi hal-hal apa yang akan diperdakan.
  • Penyelenggaraan dialog budaya harus dimulai dari tingkat Desa/Kelurahan.

Mbay, AKm, 05 Desember 2016

By ADJ Administrator Bagian Administrasi Kemasyarakatan Setda Nagekeo

Email :  This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Etu atau ritual tinju adat etnis Nagekeo ditetapkan menjadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Anies Baswedan. Penetapan ini melalui surat keputusan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, pada tanggal 20 Oktober 2015 di Jakarta yang ditandatangani oleh Mendikbud, Anies Baswedan.

 

Sebelumnya, keputusan warisan budaya ini telah melalui Sidang Penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia Tahun 2015 yang dilaksanakan pada tanggal 20-23 September 2015 di  Jakarta. Dalam sidang ini diputuskan sebanyak 121 karya budaya untuk ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

 

Seperti yang dilansir dari laman Kemdikbud.go.id, 121 karya budaya itu disaring dari 339 usulan karya budaya yang diterima oleh Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya Kemendikbud. Karya budaya yang dimaksud terdiri dari seni pertunjukan, ekspresi lisan, kemahiran dan kerajinan tradisional, adat istiadat masyarakat, serta tradisi dan ekspresi lisan dari berbagai daerah di Tanah Air.

 

Menanggapi peristiwa ini, budayawan Nagekeo, Cyrilus Bau Engo mengucapkan apresiasinya dan terimakasih kepada pemerintah RI. Menurutnya, ritual Etu adalah warisan budaya yang sudah turun temurun di Kabupaten Nagekeo maupun Ngada. Penetapan Etu sebagai warisan budaya nasional dinilai sudah tepat.

 

" Budaya ini (Etu), sangat khas, sehingga pemerintah tidak gegabah menetapkannya sebagai salah satu warisan budaya nasional", katanya.

 

Menurut mantan anggota DPRD NTT ini, meskipun Etu adalah ritual adu fisik tapi tidak pernah mengajarkan dendam. Tradisi ini merupakan salah satu ritual untuk bersyukur atas hasil panen sekaligus persembahan bagi tuhan dan leluhur. Darah yang keluar dalam pertarungan Etu dianggap sebagai persembahan bagi bumi pertiwi.

 

Kedepannya, tokoh adat Nagekeo ini juga berpendapat para pemangku adat perlu menuliskan seluruh proses Etu sebagai salah satu cara meregenerasi budaya.

 

" Kalau selama ini dengan budaya lisan, sekarang sudah saatnya dengan menuliskan seluruh proses Etu. Karena dalam ritual ini ada nyanyian, doa, tarian dan persembahan bagi leluhur yang perlu dilestarikan ", ujarnya.

 

(Foto & teks oleh : Yanto Mana Tappi, Bid. Kominfo Nagekeo)

NDOTO YUNIOR HARUMKAN NAMA NTT

Written by Tuesday, 07 June 2016 12:28

 

Provinsi Nusa Tenggara Timur patut berbangga, karena 8 anak Desa dari Sekolah Dasar Katolik Mabhambawa, kampung kecil Wajo, Kecamatan Keo Tengah, Kabupaten Nagekeo telah mengharumkan nama NTT dengan menjuarai Festival Budaya Musik Tradisional Tingkat Nasional yang diselenggarakan di Palu, Silawesi Tengah, tanggal 22-23 April 2016.

Bupati Nagekeo Elias Djo mengatakan bahwa keikutsertaan Musik Sanggar Ndoto dalam ajang ini merupakan manifestasi usaha kita bersama untuk mengangkat, memajukan dan melestarikan musik tradisional Nagekeo sebagai warisan leluhur Nagekeo yang patut dijaga, dikembangkan dan dilestarikan. Selain itu, ajang ini juga bagian dari promosi, memperkenalkan seni dan budaya ke daerah lain, baik di tingkat Lokal, Nasional maupun Internasional.

Bupati Nagekeo Elias Djo juga menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang tinggi kepada orang tua, sekolah/para guru, Pengurus Sanggar Ndoto, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, serta semua pihak yang telah berpartisipasi dan memfasilitasi Anak-anak Sanggar Ndoto mengikuti kegiatan ini.

Wakil Ketua DPRD Kabupaten Nagekeo, Kristianus Dua Wea juga mengatakan Lembaga DPRD Kabupaten Nagekeo patut mengapresiasikan perjuangan dari duta-duta cilik Nagekeo dengan selalu berpihak dalam kebijakan anggaran, serta senantiasa merespon dan mendukung setiap kegiatan yang berkaitan dengan Kebudayaan dan Pariwisata. Beliau menambahkan bahwa Lembaga DPRD Kabupaten Nagekeo melalui Komisi C telah mengambil bagian secara langsung dalam kegiatan Festival pergelaran Musik Tradisional tersebut.

Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Nagekeo, Silvester Teda Sada, dalam laporannya mengatakan bahwa Sanggar Ndoto adalah salah satu sanggar binaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Nagekeo, di antara 33 sanggar yang ada di Kabupaten Nagekeo. Dinas Kebudayaan dan Pariwasata lebih memilih Sanggar Ndoto tampil di even Nasional, karena sanggar ini memiliki produk seni musik yang unik, sangat tradisional dan orisinal yang dimainkan oleh anak-anak usia 8 sampai 12 tahun atau kelas 2 sampai kelas 6 Sekolah Dasar yang secara kebetulan sesuai ketentuan dan persyaratan Panitia Penyelenggara Festival.

 

Acara pembukaan grand opening berlangsung pada tanggal 22 April 2016, pada pukul 16.00 Wita yang dibuka secara resmi oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam hal ini Direktur Kesenian, Ibu Endang Caturwati. Sanggar Ndoto tampil memukau dan mengundang kagum para penonton, para peserta, serta juri tim penilai, di mana hari pertama kompetisi tampil 18 peserta dari 18 provinsi dan tersisa pada hari kedua sebanyak 16 peserta dari 16 provinsi. Penampilan hari terakhir yang gemilang, Sanggar Ndoto berhasil meraih prestasi sebagai juara pertama di antara 5 peserta terakhir penyaji musik terbaik dari NTT, Yogyakarta, Bengkulu, Sumatra Utara dan Sulewasi Utara.

 

 

 Mbay, Akm, 07 Juni 2016

By ADJ Bagian Administrasi Kemasyarakatan Setda Nagekeo

Email:    This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

 

Pemerintah Kabupaten Nagekeo melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Nagekeo, Jumat, 7 November 2014, melakukan pemagaran terhadap Gua Rane, salah satu gua peninggalan Jepang di Kabupaten Nagekeo yang terdapat di Ratedosa, Desa Aeramo Kecamatan Aesesa. Pemagaran dilakukan untuk menjaga kelestarian gua dan lingkungan sekitar gua serta merupakan bentuk peningkatan kualitas Gua Rane sebagai salah satu obyek wisata di Kabupaten Nagekeo.

Pembangunan pagar Gua Rane diawali dengan ekaristi kudus yang dipimpin oleh Pater Andreas Hang Kondo, SVD. Hadir dalam kesempatan tersebut Bupati Nagekeo Elias Djo, Ketua DPRD Kabupaten Nagekeo Marselinus F. Adjo Bupu, Sekretaris Daerah Kabupaten Nagekeo Drs. Julius Lawotan, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Nagekeo Drs. Andreas Ndona, Ketua Suku Nataia Patrisius Seo serta undangan lainnya. Setelah perayaan ekaristi, kegiatan dilanjutkan dengan peletakan batu pertama pembangunan pagar oleh Ketua Suku Nataia Patrisius Seo mewakili Suku Nataia sebagai pemilik lahan dan Bupati Nagekeo Elias Djo mewakili Pemerintah Kabupaten Nagekeo.

 

Bupati Nagekeo dalam kesempatan tersebut menyampaikan bahwa Pemerintah Kabupaten Nagekeo berupaya melestarikan dan merenovasi seluruh objek wisata di Kabupaten Nagekeo untuk memajukan pariwisata Kabupaten Nagekeo serta mendukung Kabupaten Nagekeo menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Nusa Tenggara Timur. “ Saya berharap agar pemagaran areal Gua Rane ini dapat menjaga kelestarian dan kebersihan gua. Semoga masyarakat sekitar gua dapat memahami bahwa Gua Rane adalah salah satu objek wisata yang bernilai sejarah, sehingga tidak merusak gua tetapi ikut menjaga Gua Rane ini.”, demikian menurut Bupati Nagekeo. Elias Djo juga menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada Kepala Suku dan segenap masyarakat Nataia yang telah bersedia menyerahkan Gua Rane yang berada di atas lahan Suku Nataia kepada Pemerintah Kabupaten Nageko untuk dikelola secara baik.

Sementara itu, Ketua DPRD Nagekeo Marselinus F Ajo Bupu mengatakan bahwa DPRD merespons secara positif pembangunan pagar pelindung gua, karena DPRD dan pemerintah merupakan mitra dalam memajukan Nagekeo.“Saya berharap agar di masa depan pariwisata Nagekeo menjadi salah satu sumber pendapatan asli daerah (PAD), jika yang sudah ada ini kita jaga dan kelola secara baik. Orang berbudaya pasti orang yang beradat, maka marilah kita menjaga aset-aset budaya kita secara baik,” jelasnya.

 

Gua Rane merupakan salah satu dari 23 gua/bunker peninggalan penjajahan Jepang yang tersebar di wilayah Kabupaten Nagekeo. Dari 23 gua tersebut, baru Gua Rane yang mulai ditata Pemerintah Kabupaten Nagekeo, sebab gua-gua lainnya masih berada dalam kawasan milik masyarakat dan belum diserahkan kepada pemerintah.

 

Berita Bagian Administrasi Kemasyarakatan Setda Nagekeo

Email: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Destinasi Wisata Nagekeo

Written by Friday, 03 October 2014 19:14

Galeri Photo Destinasi Wisata Nagekeo



Air Terjun Ngabatata