5

Menjajaki Peluang Pasar Produk Unggulan : Bupati Don di Labuan Bajo Manggarai Barat

Nagekeokab.go.id – Mbay, 19 April 2021
Bupati Nagekeo bersama Ibu Ketua TP PKK Kabupaten Nagekeo melakukan kunjungan kedinasan di Labuan Bajo pada Minggu, 18 April 2021 sekaligus bertemu Bupati Manggarai Barat bertempat di Rumah Jabatan Wakil Bupati Manggarai Barat.
Sebelum bertemu, Bupati Don mengambil kesempatan mengunjungi Gedung Taman Budaya Puncak Waringin dan Mini Museum Produk Unggulan Batu Cermin Labuan Bajo.
Bupati Don didampingi ibu Ketua TP PKK, E. Yayik Pawitra Gati dan Kepala Dinas Koperindag Kabupaten Nagekeo, K.M. Simporosa Djawaria.
Sementara dari Labuan Bajo, Bupati Don didampingi langsung Direktur Perumda Bidadari, Sutanto Weri, dan Direktur Badan Otorita Pariwisata Labuan Bajo Flores (BOP LBF), Shana Fatina Sukarsono.
 
Kadis Koperindag sejak Jumad sebelumnya sudah tiba di Labuan Bajo guna melakukan survey peluang pasar produk-produk UKM dan IKM Nagekeo yang akan dipasok ke Labuan Bajo, dan menjajaki peluang kerja sama saling menguntungkan dengan pihak Dinas Koperindag setempat dan pihak Perusahaan Umum Daerah Bidadari Labuan Bajo.
Bupati Nagekeo terus gencar mendorong peluang usaha pertanian yang menghasilkan produk-produk unggulan bernilai tinggi melalui Dasa Wisma, Karang Taruna, Orang Muda Katolik maupun Remaja Mesjid dan lain-lain pelaku usaha aktif.
Karena itu, setelah mengunjungi beberapa titik, Bupati Don dan ibu mengambil kesempatan bertemu Bupati dan Wakil Bupati Manggarai Barat.
Sekitar pukul 10.30, Bupati Don tiba dan disambut hangat Bupati Manggarai Barat, Edistasius Endi, dan Wakil Bupati, Yulianus Weng, masing-masing bersama ibu bertempat di Rumah Jabatan Wakil Bupati Manggarai Barat.
Setelah bercakap-cakap santai di ruang tamu, Bupati Don dan rombongan diajak makan siang bersama, sembari saling membagi sapa.
Berikut kutipan sambutan Bupati Don :
“Saya berupaya mencari peluang pasar. Terdekat di Labuan Bajo. Apalagi jelang Even Internasional seperti G20.
“Destinasi premium menjadi andalan besar. Para pekerja membutuhkan makanan dan minum. Peluang kita ke pasar Inpres, ke para pekerja perantau. Tidak harus ke pasar besar atau ke hotel menengah hingga besar”
“Nagekeo diaspora di Manggarai Barat, mereka bisa memperhatikan produk Nagekeo di sini dan menjalin komunikasi dengan produsen di Nagekeo”
Saya juga memulai sesuatu dari orang muda.
“Perhatian Pemerintah Pusat ke daerah, kita petik maksimal. Saya serius menopang Labuan Bajo. Saya berharap dan meminta Labuan Bajo menjadi outlet Nagekeo…” Ungkap Bupati Don.
Selanjutnya, Bupati Edistasius memberi sapa :
“Luar biasa hari ini kita bertemu. Yang kami ketemu adalah orang hebat, punya pengalaman luar biasa baik sebagai bupati maupun sebagai seorang dokter. Ini adalah modal.
“Labuan Bajo Mabar, adalah miniaturnya Flobamora, miniaturnya negeri ini. Suku maupun Ras dari mana-mana ada di tempat ini. Hampir setiap gang/lorong, ada orang Bajawa, orang Nagekeo. Dalam acara pesta, yang dominan justru “ja’i” nya orang Bajawa.
Yang uniknya, Paguyuban Nagekeo, meliputi tiga etnis yakni Ende, Sikka dan juga Ngada. Paguyuban Nagekeo, tapi ketuanya orang Ende.
Itulah luar biasanya. Tidak peduli identitas. Ada suasana batin yang sama. Tidak ada pertentangan, nyaman, kekeluargaan tinggi. Itulah saudara.
Kebetulan Labuan Bajo, oleh Pemerintah Pusat ditetapkan sebagai daerah tujuan wisata.
Berawal dari soal komodo. Semakin ke sini, diberi labelisasi mulai KSPN (Kawasan Strategis Pariwisata Nasional), diikuti super premium, ditambah BOP (Badan Otorita Pariwisata), ditambah FL (Flores Lembata). Ternyata bukan hanya Labuan Bajo, tapi urus juga sampai Lembata.
Kesemuanya adalah bagian dari bentuk tanggung jawab pemerintah pusat. Daerah kita disejajarkan dengan daerah-daerah lain yang sudah maju.
Labuan Bajo pintu masuk kita orang flores.
Labuan Bajo terbuka untuk siapapun, apalagi sesama saudara dari Nagekeo.
Nagekeo punya hasil pertanian. Sini punya industri pariwisata.
Kita permanenkan hubungan kerja sama. Petani Nagekeo sampai di sini.
Teman-teman Koperasi Perindustrian dan Perdagangan, juga dari pertanian, bisa membuat semacam MoU dengan Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Bidadari Labuan Bajo.
Saya berharap, harus ada pembeda antara produk pertanian import, Produk Bima, Bali, Jawa. Kalau bisa yang dari Nagekeo punya ciri identitas pembeda. Sayur dan buah-buahan benar-benar organik, jangan lagi pakai pupuk kimia yang dari pabrik.
Kalau ini bisa diwujudkan, kita bisa “paksa” hotel-hotel untuk pake produk pertanian organik itu.
Kalau pasokan pasar bisa penuhi kebutuhan pariwisata di tempat ini, kita larang yang dari luar yang pakai pupuk kimia dari pabrik.
“Kami cinta produk pertanian Flores…” Kita deklarasikan itu. Kami harap Nagekeo mulai dengan ini; dan kami yakin, Nagekeo bisa.
Kalau Nagekeo sukses, kami akan belajar ke sana.
BOP perannya sebagai mediator; menghubungkan apa yang unggul dari Nagekeo.
Kita dorong bersama marina. Dekransda Provinsi NTT benar2 jadi payung utk dekransada di daerah.
Kita juga berharap, Puncak Waringin Labuan Bajo jadi tempat jual produk anak-anak NTT.
Kami siapkan karpet merah untuk keluarga besar dari Nagekeo.
Saya dan Wabup, mohon tuntun kami. Walau garuda sama tapi kaka (Bupati Don) duluan.
Mudah-mudahan ini awal.
Saya senang semua dinas, setiap jumad ke sini. Produk pertanian harus punya identitas, ciri tersendiri. Dengan demikian, mudah kita jual.
Kenapa malu tiru yang positif dari daerah lain…” Ujar Bupati Edistasius menutup sambutannya.
Selesai pertemuan singkat ini, pada pukul 13.00 Bupati Don dan Ibu kembali ke Bandara Komodo, guna melanjutkan perjalanan tugasnya ke Jakarta.
***
Protkompim
(Humas Pemda NK)
 

Hits: 6

Tags: No tags

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *