Pemkab Nagekeo Sukses Bangun 17,5 Km Saluran Permanen di Irigasi Mbay Selama Pandemi Covid

Mbay, nagekeokab.go.id – Pemerintah Kabupaten Nagekeo melalui Dinas Transmigrasi dan Tenaga Kerja (Transnaker) selama pandemi Covid-19 melanda, sukses membangun kurang lebih  17, 5 Kilometer saluran permanen di daerah Irigasi Mbay.

Plt Kepala Dinas Transnaker Kabupaten Nagekeo Aurelio Herry Assan menjelaskan bahwa pembangunan saluran irigasi tersier dan yang tersebar di 41 Kelompok Petani Pemakai Air (P3A) merupakan upaya Pemkab Nagekeo mendongkrak  pendapatan masyarakat yang mengalami kemerosotan ekonomi akibat pandemi Covid-19.

Herry menyebut, anggaran yang dialokasikan guna membangun 17, 5 Kilometer saluran tersier dan sub tersier tersebut bersumber dari Biaya Tak Terduga (BTT) hasil refocousing dan realokasi tahun 2020 sebesar Rp.8.265.548.500 dan BTT tahun 2021 senilai Rp.4.499.999.754.

Herry menegaskan, Pemerintah Kabupaten Nagekeo menitikberatkan pembangunan khususnya padat karya pada masa pandemi Covid-19 di Irigasi Mbay, bertujuan mengantisipasi terjadinya krisis pangan karena Irigasi Mbay merupakan lumbung pangan Nagekeo.

“Kenapa harus Irigasi Mbay? Karena Mbay merupakan miniatur Nagekeo, Irigasi Mbay adalah lumbung pangannya Nagekeo. Sehingga kita harus persiapkan betul daerah irigasi ini agar ketika misalnya terjadi krisis pangan dan lain sebagainya di masa pandemi seperti yang dipresentasikan, kita Nagekeo sudah siap” ungkap Herry di ruang kerjanya Kamis 12 Januari 2022.

Menurut Herry, terlepas dari padat karya sebagai salah satu upaya meningkatkan ekonomi masyarakat di masa pandemi Covid-19, pembenahan infrastruktur di sektor pertanian khususnya Irigasi Mbay juga bagian daripada menjalankan program yang sudah tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Bupati dan Wakil Bupati Nagekeo.

“Ini program yang sebenarnya bukan datang dengan sendirinya, ini bagian daripada menjalankan visi-misi Pak Bupati dan Wakil Bupati yakni membangun Nagekeo melalui sektor Pertanian dan Pariwisata” ungkap Herry.

Mantan Kasat Pol-PP Kabupaten Nagekeo ini mengungkap, dalam proses pelaksanaan kegiatan padat karya infrastruktur penanganan dampak Covid-19 di daerah Irigasi Mbay pihaknya melibatkan beberapa stekholder diantaranya Asisten Setda Nagekeo, Dinas PUPR, Dinas Pertanian, Penyuluh Pertanian, Bagian BPJ dan Tenaga Ahli.

“Personil tersebut terhimpun dalam tim penyelenggara swakelola sebagai narasumber, tim persiapan, tim pelaksana tim pelaksana hingga tenaga ahli” jelas Herry.

Herry menjelaskan, dalam pelaksanaannya, Dinas Transnaker menggunakan padat karya tipe 1 dengan pola swakelola yang mana melibatkan masyarakat dalam hal ini petani itu sendiri.

Alhasil, sebanyak 4.406 tenaga kerja terserap dalam pekerjaan padat karya selama tahun 2020 dan 2021 dengan total penerimaan uang Harian Orang Kerja (HOK) baik tenaga kerja maupun upah tukang mencapai Rp. 4.493.175.000.

“Bayangkan, ada lebih dari 4 miliar uang beredar dan berputar di masyarakat selama masa pandemi” ungkapnya.

Dirincikannya, adapun capaian panjang saluran tersier dan sub tersier permanen yang digarap selama dua tahun terakhir yakni 17.572,65 meter dan merehabilitasi 996,3 meter saluran yang mengalami kerusakan.

Padahal, sebelumnya, panjang saluran tersier di seluruh Irigasi Mbay yang mencapai 85.647 meter, baru sekitar 28.948 meter yang sudah permanen, sisanya 56.271 meter masih berupa saluran tanah.

Selain saluran, 278 unit pintu angkat, 90 unit boks air juga berhasil dikerjakan dalam kegiatan tersebut.

“Hingga saat ini realisasi saluran tersier di Irigasi Mbay yang sudah permanen mencapai 46.520,65 meter, sehingga sisa saluran tanah masih sekitar 38.698,39 meter dari total saluran di Irigasi Mbay secara keseluruhan 85.647 meter” beber Herry.

Kesuksesan Pemerintah Kabupaten Nagekeo melalui Dinas Transnaker  membangun saluran drainase permanen diapresiasi para petani.

Ketua P3A Kawasan Mbay (KM) 6. 1 Tengah, Desa Aeramo, Lukas Li  mengungkap kebijakan pelaksanaan padat karya membangun saluran drainase permanen oleh Dinas Transnaker Nagekeo sangat bermanfaat bagi petani di wilayahnya.

Bagi Dia, persoalan drainase yang dialami para petani selama ini merupakan masalah klasik, pasalnya para petani kerapkali merasa kewalahan dan tidak kebagian pasokan air jika masih menggunakan saluran tanah.

“Terimakasih Pemda Nagekeo, ini sangat-sangat bermanfaat bagi kami petani, karena idealnya irigasi harus menggerakkan saluran permanen sehingga pasokan air dapat terpenuhi secara menyeluruh” ungkap Lukas.

Lukas berharap ke depannya, program padat karya pembangunan saluran tersier permanen ini bisa dilaksanakan secara berkelanjutan, karena di wilayah P3A KM 1.6 tengah masih banyak petani yang menggunakan saluran tanah.

Hal senada juga disampaikan Ketua P3A KM 1.6 Kiri Anselmus Djogo. Meski menurut Anselmus, penyerapan tenaga kerja dalam kegiatan padat karya ini tidak begitu memberi dampak yang berarti, akan tetapi pemanfaatan saluran permanen sangat dirasakan oleh para petani.

”Ya, sebagai petani kita apresiasi langkah Pemerintah, kita tentu berharap ke depan masih tetap ada intervensi anggaran untuk ini, karena di wilayah saya ini masih lebih banyak saluran yang belum permanen dibandingkan dengan dengan yang sudah permanen” pungkasnya.(RSN/Sevrin)

Copyright © 2022 Pemerintah Kabupaten Nagekeo. All Right Reserved.

Hits: 147

Translate »