Tekan Angka Stunting, Berikut Pola Penanganan Yang Dilakukan Pemkab Nagekeo

Mbay, nagekeokab.go.id – Bupati Nagekeo Johanes Don Bosco Do dan Wakil Bupati Nagekeo Marianus Waja mengikuti rapat bersama Presiden Republik Indonesia (RI) Jokowi secara virtual dari aula Kantor Desa Tengatiba, Kecamatan Aesesa Selatan pada Kamis 24 Maret 2022.

Rapat yang dihadiri oleh seluruh Kepala Daerah dan Walikota se Nusa Tenggara Timur tersebut diselenggarakan guna mendengar arahan Presiden Jokowi berkaitan dengan penanganan stunting di Tanah Air.

Dalam arahannya Presiden Jokowi menyampaikan bahwa Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan salah satu faktor penting yang  menentukan maju tidaknya sebuah negara.

Presiden mengatakan, berkaitan dengan penanganan stunting harus menitikberatkan pada peningkatan asupan gizi (makanan tambahan) pola pendampingan terhadap remaja hingga calon pengantin.

“Target kita di 2024 sudah di bawah 14 persen, saya akan lihat di 2023. Saya minta seluruh Gubernur, Bupati dan Walikota di seluruh Tanah Air, jangan sampai angka 14 persen itu luput” pesan Presiden.

Bupati Nagekeo Johanes Don Bosco Do dalam pemaparannya menjelaskan bahwa angka stunting di Kabupaten Nagekeo meningkat dari 9,16 persen di tahun 2021 menjadi 10, 37 persen di tahun 2022.

Guna menekan laju peningkatan stunting di Kabupaten Nagekeo, Bupati Don Bosco mengajak seluruh elemen agar bersama-sama berjibaku mencari solusi serta menyampaikan beberapa strategi pola penanganan stunting.

“Kalau mereka di Kabupaten lain buat pendekatan dari BKKBN intervensi ke pengantin, kita ke remaja putri pertama mendapatkan haid, kita bekerjasama dengan sekolah-sekolah melalui UKS mengecek berapa remaja yang sudah haid” ungkap Bupati Don Bosco.

Bupati Don Bosco menegasakan bahwa persoalan stunting merupakan proyek Strategis Kemanusiaan Nasional yang harus disikapi secara serius oleh para pemimpin di daerah mulai dari Bupati, Camat, hingga Kepala Desa.

“Sebagai Kepala Wilayah , Saya, Camat, Desa, penting sekali melihat remaja putri ataupun pasangan muda yang masih potensi punya anak, apalagi yang stunting.

Kita Intervensi langsung dari sana, ketika remaja mendapatkan haid pertama, perhatian gizi itu penting protein lemak karbohidrat lemak harus benar-benar diperhatikan” katanya.

Karena itu, Don Bosco menyarankan agar intervensi anggaran seperti Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan Dana Desa (DD) dianggarkan juga untuk penanganan stunting salah satunya dipakai juga untuk alat tes HB digital.

“Nanti kita arahkan Dinas P dan K agar dana Bos dipakai untuk membeli alat tes HB digital. Dana Desa juga dipakai untuk mengatasi stunting” pesan Don Bosco.

Lebih jauh Don Bosco menyatakan, pola pendekatan terhadap remaja putri maupun pasangan suami isteri muda harus bisa dilakukan melalui lembaga agama, seperti Orang Muda Katolik (OMK), Pemuda Gereja maupun Remaja Masjid.

“Kalau yang hamil karena kecelakaan, kita harus bekerja sama dengan orang tua, prinsipnya kita mendapatkan info lebih awal sehingga intervensi lebih dini. Melakukan pendekatan langsung dengan keluarga, mencari tau apakah dia punya sumber daya untuk hidup sehat dalam pemenuhan gizi keluarga, mengunjungi betul keluarga yang punya stunting pastikan mereka punya sumber daya asupan gizi” pungkasnya.(RSN/Sevrin).

Copyright © 2022 Pemerintah Kabupaten Nagekeo. All Right Reserved.

Hits: 413

Translate »