Pemkab Nagekeo Dorong Milenial Rebut Kembali Proses Produksi dari Kapitalis

Mbay, nagekeokab.go.id – Pemerintah Kabupaten Nagekeo mendorong kaum milenial untuk bisa merebut kembali proses produksi baik di sektor pertanian maupun peternakan dari kaum Kapitalis.

Hal itu ditegaskan Bupati Nagekeo Johanes Don Bosco Do saat menghadiri acara penyerahan sertifikat bagi 24 peserta yang mengikuti magang pengolahan lahan hortikultura yang dikembangkan oleh Yayasan Sao Mere di Kampung Watuapi, Desa Totomala, Kecamatan Wolowae pada Kamis 31 Maret 2022.

“Saya mengajak kita semua kaum Milenial untuk kembali beternak ayam, bercocok tanam (Holtikultura). Kita mengambil kembali proses produksi yang diambil oleh kapitalisme kembali ke tangan orang kebanyakan” tegas Bupati Don.

Bupati Don Bosco berharap masyarakat lebih khusus kaum muda bisa memahami persoalan ini, sebab fakta yang ada di tengah masyarakat saat ini, proses produksi yang merupakan warisan turun temurun seperti beternak unggas, memelihara ternak besar (Sapi, Kerbau dll), hingga bercocok tanam yang notabene dapat mendongkrak pendapatan ekonomi rumah tangga sudah dikuasai oleh kaum Kapitalis.

Padahal potensi untuk bisa mengembangkan proses produksi sangat besar dan terbuka bagi masyarakat Nagekeo, pasalnya masyarakat umumnya memiliki modal dasar yakni lahan yang bisa dimanfaatkan guna mengembangkan berbagai proses produksi tersebut.

“Ini pekerjaan besar kita, asupan nutrisi kebutuhan gizi manusia tidak cukup dengan hortikultura, kita butuh protein daging dengan telur. Dengan asupan gizi seimbang kita juga bisa menekan angka stunting” ujarnya.

Menurut Don Bosco proses produksi ini selain direbut kapitalis hingga perlahan mulai ditinggalkan masyarakat itu sendiri, potensi pengembangan baik sektor pertanian maupun peternakan seperti beternak ayam memiliki pangsa pasar yang cukup tinggi. Karena itu Bupati berharap masyarakat terlebih kaum Milenial yang memiliki kemauan untuk ini, dapat melihat potensi ini menjadi peluang yang layak untuk dikembangkan.

Bupati Don Bosco menegaskan bahwa, Pemerintah Kabupaten Nagekeo siap membantu dan menginventarisir kebutuhan, apabila anak muda berniat secara mandiri mengembangkan sektor pertanian dan peternakan memanfaatkan potensi lahan tidak produktif.

“Ke depan bantuan itu langsung menuju ke kita, butuh apa alat kerja ada atau tidak sehingga bantuan kita itu terarah dan tepat guna. Pelatihan yang akan datang ini komplit selain hortikultura juga sektor peternakan. Sektor Pertambangan kita kembangkan secara integrasi dengan peternakan. Prinsipnya yang kita tanam ini untuk dijadikan pakan. Kita dari Pemda pasti membantu, penting bagi kalian berjejaring” ungkap Don Bosco.

Optimalisasi Lahan Tidur

Pemkab Nagekeo di bawah kepemimpinan Bupati Don Bosco saat ini tengah berupa mengoptimalkan potensi lahan tidak produktif (Lahan Tidur) menjadi lahan produktif. Data statistik mencatat Kabupaten Nagekeo memiliki luas lahan tidur di atas 30 ribu hektar.

Hal pertama yang menjadi tugas Pemerintah kata Bupati Don Bosco ialah menyiapkan terlebih dahulu sumber daya manusia (SDM) masyarakat Kabupaten Nagekeo lebih khusus para petani.

“Setelah SDM kita sudah benar-benar siap untuk bisa mengembangkan potensi baik di sektor pertanian maupun sektor lainnya, langkah selanjutnya adalah menginventarisir kebutuhan alat mesin pertanian guna menunjang keberlanjutan pengembangan tersebut” ungkapnya.

Bupati menjelaskan, adapun kiat Pemkab Nagekeo dalam meningkatkan sektor pertanian yakni selain intervensi program melalui Dinas tekni, Pemerintah juga berupaya menggandeng pihak luar seperti Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan Investor.

Menurut pengamatan Bupati Don Bosco lahan tidak produktif yang potensial menyebar di wilayah Kecamatan Aesesa Selatan, sebagian besar wilayah Kecamatan Boawae (Gero, Dhereisa, Watugase, Rowa hingga wilayah Alorawe dan sekitarnya.

Perlahan namun pasti, upaya optimalisasi Lahan tidak produktif menjadi lahan potensial sudah mulai dijalankan. Salah satu bukti nyata yang sudah dilaksanakan di lapangan yakni mencetak areal persawahan tadah hujan baru di wilayah Tengatiba, Kecamatan Aesesa Selatan yang sebelumnya dikenal sebagai lahan tidur.

Untuk lahan tidak produktif selain di sektor pertanian, Pemkab Nagekeo juga tengah berupaya mengoptimalkan lahan tidur di wilayah Tedakisa dan Tedamude untuk sektor peternakan dengan menerapkan pola integrasi antara Pertanian dan Peternakan.

“Kemarin ada salah satu BUMD dari Banten  yang mau merintis kerjasama dengan kita di bidang peternakan dan mereka sudah turun survey lokasi di daerah Tedakisa dan Tedamude” pungkasnya.

Sementara, Ketua Yayasan Sao Mere  Kasianus Sebho mengungkapkan bahwa sebagai mitra yang digandeng Pemkab Nagekeo pihaknya mengajak kaum milenial untuk mengembangkan potensi di sektor pertanian melalui pelatihan cara bercocok tanam Holtikultura dengan memaksimalkan lahan tidur.

Hingga saat ini, Yayasan Sao Mere sudah berhasil mendidik kurang lebih 34 anak muda Nagekeo yang direkrut dari beberapa Desa di wilayah Kabupaten Nagekeo dari berbagai latar belakang.

Pelatihan sekolah non formal itu merupakan kerja sama antara  Yayasan Sa’o Mere dengan Yayasan Plan Internasional yang berlangsung selama dua bulan.

“Mereka ini setelah selesai kita akan terus damping. Sehingga mereka sebagai contoh bagi kaum mileneal di desanya masing-masing. Kita juga berharap agar Magang di sini peserta benar-benar akan menjadi petani milenial yang sukses,” ujarnya.(RSN/Sevrin)

Copyright © 2022 Pemerintah Kabupaten Nagekeo. All Right Reserved.

Hits: 193

Translate »