Pemkab Nagekeo Gelar Rembuk Stunting

Mbay, nagekeokab.go.id – Pemerintah Kabupaten Nagekeo melalui Badan Pengembangan Pendidikan dan Pelatih Daerah (Bapelitbangda), Dinas Kesehatan dan BKKBN menyelenggarakan kegiatan rembuk stunting pada Jumat 1 April 2022.

Kegiatan yang berlangsung di Rest Area Kampung Adat Tutubhada, Desa Rendututubhada, Kecamatan Aesesa Selatan ini dihadiri oleh Wakil Bupati Nagekeo Marianus Waja, anggota DPRD Nagekeo Kristianus Pantaleon Djogo, perwakilan seluruh SKPD di lingkungan Pemkab Nagekeo, para Camat, Kepala Puskesmas, Lurah, sejumlah Kepala Desa yang menjadi lokus stunting hingga tokoh agama.

Kepala Bapelitbangda Kabupaten Nagekeo Kasmir Dhoy melalui Kepala Bidang Pemerintahan, Pembangunan Manusia, Perekonomian dan Infrastructure Bappelitbangda Marellena Andhi Prastiwi

dalam sambutannya menyampaikan bahwa stunting merupakan program prioritas nasional karena mengancam kualitas generasi masa depan bangsa.

“Oleh karena itu, penanganan permasalahan stunting harus dilakukan secara paripurna, komprehensif, terpadu dan bersifat multisektoral dengan mengintensifkan pendampingan terhadap keluarga yang berisiko melahirkan bayi beresiko stunting” ungkapnya.

“Pendampingan ini fokus dilakukan mulai pada periode remaja serta calon pengantin pada masa kehamilan dan pada masa pasca persalinan, serta terus didampingi hingga anak berusia 5 tahun” ujarnya.

Dilaporkannya prioritas sasaran pendampingan untuk bulan Pebruari sampai dengan bulan Agustus 2022 adalah 1.106 ibu hamil yang diperkirakan akan melahirkan bayi pada periode tersebut, 43 bayi wasting kurang dari 6 bulan, 22 bayi stunting kurang dari 6 bulan, 34 bayi wasting 6-12 bulan, dan 46 bayi stunting 6-12 bulan.

Arahan untuk sasaran prioritas adalah segera intervensi kecukupan asupan protein dan pastikan bayi tidak mengalami infeksi saat satu kali tidak naik berat badan. Berikutnya adalah segera rujuk ke dokter puskesmas.

Dijelaskannya, pola pendampingan pada masa-masa tersebut merupakan upaya agar segenap intervensi sensitif maupun intervensi spesifik yang diberikan dapat tepat sasaran sampai kepada penerima manfaat dan mempunyai dampak nyata dengan menurunnya angka prevalensi stunting 14% pada tahun 2024 sesuai dengan target nasional dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada tujuan kedua, yaitu menghilangkan kelaparan dan segala bentuk malnutrisi pada tahun 2030 serta mencapai ketahanan pangan.

Perkembangan Prevalensi Stunting di Kabupaten Nagekeo dari 2018 sampai 2022 adalah sebagai berikut; pada tahun 2018 sebesar 36,93%, kemudian pada tahun 2019 mengalami penurunan sebesar 15,5% menjadi 21,40%, dan pada tahun 2020 sebesar 13,79% atau terjadi penurunan 7,61%, kemudian di tahun 2021 sebesar 9,20% atau terjadi penurunan sebesar 4,63% dari tahun sebelumnya.  Sedangkan, angka sementara pada awal Tahun 2022 ( hasil operasi timbang Februari) sebesar 10.37% atau sedikit mengalami kenaikan sebesar 1,17%.

Kegiatan Rembuk Stunting dilaksanakan dengan maksud bahwa Pemerintah Kabupaten secara bersama-sama akan melakukan konfirmasi, sinkonisasi dan sinergitas hasil analisis situasi dan penyusunan rancangan rencana kegiatan dari OPD penanggung jawab layanan di tingkat Kabupaten bersama-sama Kecamatan, Puskesmas dan Pemerintah Desa setelah memperoleh hasil Analisis Situasi (Aksi1) dan memiliki Rencana Kegiatan (Aksi2) dalam upaya percepatan penurunan stunting di desa lokus/prioritas penurunan stunting tahun 2023.

“Adapun tujuan dari pelaksanaan kegiatan ini antara lain Menyepakati 25 Desa Lokus stunting tahun 2023 hasil analisis situasi dan rancangan rencana kegiatan intervensi penurunan stunting yang akan menjadi bagian dari Renja Perangka Daerah dan RKPD 2023, membangun komitmen bersama untuk percepatan penurunan angka stunting di Kabupaten Nagekeo, serta Membangun Komitmen seluruh Pemerintah Desa untuk mengalokasikan kebutuhan pendanaan kegiatan terkait percepatan penurunan stunting dalam RKPDes dan APBDes Tahun 2023” ujarnya.

Wakil Bupati Nagekeo Marianus Waja dalam sambutannya menegaskan bahwa persoalan stunting merupakan momok bagi masyarakat dan ancaman terbesar bagi kehidupan bangsa. Sebab itu, Wabup Marianus berharap agar semua elemen mulai dari Pemerintah hingga masyarakat berjibaku memerangi stunting.

Wabup Marianus berharap para Kepala Desa mampu berperan aktif dalam urusan menangani stunting dengan cara meningkatkan pendampingan kepada keluarga bersama dengan dusun, RT bidan desa dan kader posyandu.

“Kades punya kuasa mengelola keuangan ketemu mereka RT dusun paling dekat dgn masyarakat. Bersama bidan di polindes kita tu ada bidan ada perawat cek dan kontrol ke rumah tangga adakah ibu kita yang ada bayi di bawah lima tahun yang stunting. Terus ibu ibu hamil terus mensuport data ke Dinkes kemudian ke keluarga baru harus dikunjungi, kades harus punya data” pesan Wabup Marianus.

Wabup Marianus juga berpesan agar pola pendampingan terhadap anak muda yang akan menjalin hubungan pacaran sehingga ketika mereka menikah nanti, bisa siap untuk membangun hidup rumah tangga dengan tidak mengalami kekurangan pasokan makanan. “Sehingga keluarga muda kita setelah menikah mereka siap benar. Tidak kekurangan makanan” pesan Wabup Marianus.

Kegiatan rembuk stunting ini menghasilkan kesepakatan yang dibuktikan dengan penandatanganan komitmen lintas sektor. (RSN/Sevrin)

Copyright © 2022 Pemerintah Kabupaten Nagekeo. All Right Reserved.

Hits: 129

Translate »