Pencanangan Komitmen Sekolah dan Madrasah Sehat Tingkat Kabupaten Nagekeo

Mbay, nagekeokab.go.id – Bupati Nagekeo Johanes Don Bosco Do menandatangani sekaligus mencanangkan komitmen Sekolah dan Madrasah Sehat tingkat Kabupaten Nagekeo tahun 2022, Senin 22 Mei 2022.

Kegiatan pencanangan komitmen ini kerjasama UNICEF dengan Yayasan Sanggar Suara Perempuan ditandai dengan penyerahan modul kepada perwakilan guru UKS dan Siswa.

Acara penandatanganan komitmen tersebut dipadukan dalam apel kekuatan yang dipimpin langsung oleh Bupati Nagekeo Johanes Don Bosco Do bertempat di Halaman Kantor Bupati Nagekeo.

Hadir dalam acara tersebut Nutrition Officer Perwakilan NTT & NTB UNICEF Ha’i Raga Lawa, Sanggar Suara Perempuan (SSP) Arit Manao, Sub Koordinator Substansi Kesra Pelayanan Dasar pada Biro Pemerintahan Setda Propinsi NTT, Mysjem S. Taopan, S. TP., Sekretaris Daerah Drs.Lukas Mere, para  Asisten Sekda, ASN Lingkup Pemda Nagekeo baik Pimpinan Tinggi Pratama, Pejabat  Administrator, Pengawas dan Pelaksana, Para guru UKS dari 11 sekolah SMP/ MTs/ SMA/ serta utusan siswa/i.

Dalam arahan singkatnya Bupati Don Bosco berkesempatan menyampaikan beberapa hal penting terkait pendidikan antara lain soal tiga isu utama dalam dunia pendidikan yang oleh Menteri Pendidikan Nadien Makarim menyebutnya sebagai dosa besar dalam dunia pendidikan yaitu Perundungan/Bullying, Pelecahan seksual terhadap anak dan intoleransi.

Menurut Bupati Don, bullying akan menimbulkan traumatik pada anak didik jika tidak diatasi sedini mungkin akan memberikan trauma yang besar pada anak didik dan akan mempengaruhi perilaku anak di kemudian hari.

“Saya yakin kita yang ada disini pernah jadi korban bully mungkin juga jadi pelaku bullying, ketika di sekolah dulu. Mau ke sekolah rasanya berat karena sekolah menjadi neraka baginya” jelas Bupati.

Bupati berharap komunitas pendidikan melalui UKS bisa menggali persoalan yang dihadapi setiap peserta didik. Kejadian UKS di sekolah kata, Bupati tidak hanya soal mengurus siswa yang sakit kepala ataupun keluhan lain akan tetapi bisa mengetahui persoalan psikis siswa.

“Harus menggali masalahnya, mengapa anak ini demikian, dan juga ada hambatan, apakah itu masuk kategori learning loss atau learning gab, sehingga dalam evaluasi uji kompetensi minimal dia selalu tertinggal ke belakang. Nasib yang di alami oleh anak  anak seperti ini harus menjadi perhatian kita semua. Kita semua adalah orang tua dari anak- anak” ungkapnya.

Selanjutnya, Bupati mengatakan, Kabupaten Nagekeo tercatat sebagai  kabupaten dengan kasus asusila atau pelecehan tertinggi, untuk itu perlu penanganan secara dini guna melindungi anak.

“Sekarang di Nagekeo, kasus terbesar moral pelecehan yang masuk ke Pengadilan Negeri Bajawa itu paling tinggi dari Nagekeo . Ini kita punya persoalan. Mari  kita lindungi anak -anak kita.

Perlu mengunjungi sekolah dan  memperkenalkan bahaya, bagaimana anak anak melindungi, mengenal bagian-bagian tubuh nya yang tidak boleh disentuh oleh orang lain” katanya.

Lanjut, Don Bosco, pelaku kekerasan seksual biasanya datang dari orang-orang berkuasa juga orang terdekat korban yang bisa menjadi predator alami. “Predator ada disekitar itu, bukan orang asing tapi pelaku kekerasan  biasanya orang yang berada dekat dengan kita dan akrab dengan korban sehingga korban kekerasan seksual lebih banyak berdiam diri dan takut, menarik diri dari pergaulan” jelasnya.

Lebih lanjut ditegaskan Ini menjadi perhatian semua pihak. Perlu adanya peningkatan mutu diri dan kualitas dari para pengelola UKS.

“Dalam institusi sekolah melalui UKS, kemampuan pengelola, pembina UKS, tidak hanya para guru UKS tapi  juga orang kesehatan yang hadir saat ini harus dibekali pengetahuan, pendekatan psikologi supaya bisa mengenal lebih dini kepada anak anak yang mengalami kekerasan seksual.”harapnya.

Kemudian, persoalan intoleransi siswa juga merupakan ancaman dalam dunia pendidikan  kita saat ini. Tugas kita adalah bagaimana anak-anak kita mampu menjaga keutuhan bangsa ini.

“Saya ingin ingatkan kita para orang tua, yang ada anaknya yang masih PAUD, SD ajari perbedaan itu alami, kenapa rumput beda dengan pohon, rambut sama hitam tetapi kelakuan berbeda, agama berbeda, suku budaya dan adat istiadat yang berbeda, dan itu karunia Tuhan” ujar Bupati Don.

Lanjutnya dalam konteks bernegara, kebhinekaan ini menjadi kekayaan, karunia Tuhan yang paling besar sehingga kita terbiasa hidup dalam perbedaan.

“Dalam kehidupan sehari-hari di sekolah tidak boleh membeda-bedakan satu dengan yang lain. Anak harus terbiasa hidup dalam multikultur, multi agama, multi etnik” kata Bupati Don mengakhiri arahan singkatnya.

Setelah pencanangan Sekolah/ Madrasah Sehat dilanjutkan dengan penyerahan modul dan alat bantu pendidikan gizi kepada sekolah/madrasah di akhiri dengan penandatangan spanduk komitmen bersama.

Penandatanganan Komitmen diawali oleh Bupati Nagekeo Johanes Don Bosco Do,  selanjutnya dari Nutrition Officer Perwakilan NTT & NTB UNICEF Ha’i Raga Lawa, Sub Koordinator Substansi Kesra Pelayanan Dasar pada Biro Pemerintahan Setda Propinsi NTT, Mysjem S. Taopan, S.TP., Sekretaris  Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Nagekeo Yosefina H. Hutmin, SP. (Mey/Sev/Humas-Ngk)

Copyright © 2022 Pemerintah Kabupaten Nagekeo. All Right Reserved.

Hits: 132

Translate »