Pelatihan Penguatan Kapasitas Penanganan Stunting Berbasis Keluarga

Mbay, nagekeokab.go.id – Yayasan Plan International Indonesia PIA Flores menyelenggarakan Pelatihan Penguatan Kapasitas Stakeholder terkait Upaya Pencegahan Penanganan Stunting Berbasis Keluarga selama dua hari sejak tanggal 13 Juni 2022 sampai dengan 14 Juni 2022 bertempat di Hotel Pepita, Mbay.

Pelatihan ini diikuti oleh 58 peserta dengan utusan masing-masing desa 14 orang terdiri dari Bidan Desa  (1 orang)  Kader Posyandu/ BKB (3 orang),  PKK Desa ( 2 orang), Kelompok Dasawisma (3 orang), Remaja Putri (2 orang), BPD ( 2 orang) dan Pemerintah Desa (1 orang) serta Penyuluh KB  Kecamatan Aesesa Selatan dan  Kecamatan Keo Tengah.

Tujuan kegiatan ini adalah menginformasikan kebijakan dan strategi pemerintah dalam upaya pencegahan penanganan stunting, memperkuat kerjasama lintas sektor dan stakeholder di desa serta berupaya mendorong komitmen Pemerintah di semua tingkatan untuk melaksanakan kegiatan pencegahan stunting yang terintegrasi.

Sedangkan Output nya adalah;

    • Masyarakat dan pemangku kepentingan di desa mendapatkan informasi pengetahuan dan pemahaman terkait strategi dan kebijakan pemerintah dalam upaya pencegahan penanganan stunting;
    • Terbangunnya koordinasi lintas sektor dan stakeholder di desa sebagai ujung tombak pencegahan penanganan stunting;
    • Stakeholder dan masyarakat di desa bekerja sama dan terlibat aktif dalam mengembangkan potensi di masing-masing desa untuk upaya pencegahan penanganan stunting terutama dalam keluarga dengan ibu hamil dan bayi sampai usia 2 tahun.
    • Adanya komitmen dari pemerintah Desa dan semua stakeholder terkait untuk melaksanakan pencegahan stunting.

Cosmas Damianus Meze,  Koordinator Program CDP Plan International Indonesia  PIA Flores mengatakan bahwa kegiatan pelatihan ini merupakan kerjasama Yayasan Plan International Indonesia PIA Flores dengan Pemerintah Kabupaten Nagekeo melalui dinas terkait yakni Dinas Kesehatan dan Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana /P2KB, ingin mendorong upaya bersama lintas sektor berintegrasi dalam upaya penanggulangan stunting berbasis keluarga.

Lebih lanjut dikatakan Cosmas  bahwa Yayasan Plan International Indonesia PIA Flores telah mengembangkan Intervensi Desa Model Pencegahan Stunting di 4 (empat) Desa Pilot Stunting berdasarkan data desa lokus stunting yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kabupaten Nagekeo.

Kegiatan awal di 4 desa lokus stunting ini telah dilakukan dengan identifikasi stakeholder utama di desa yang berperan dalam upaya pencegahan penanganan stunting.

“Kita telah mulai ditingkat desa, bertolak dari apa yang kami temukan dan diskusi bersama berdasarkan SK Bupati Nagekeo terkait desa-desa lokus stunting di tahun 2012 maka tahun ini kami coba di 4 desa,  antara lain Desa Renduwawo dan Desa Wajomara  (Kecamatan Aesesa Selatan) dua lainnya  dari Kecamatan  Keo Tengah, Desa Lewa Ngera dan Desa Kotowuji Timur” katanya.

“Di tingkat desa kegiatan kita bersama para stakeholder adalah melakukan pemetaan, siapa saja yang terlibat, mengambil peran apa saja sesuai tugas masing-masing dalam upaya pencegahan stunting” imbuhnya.

Yayasan Plan International Indonesia (YPII) berupaya memastikan peran dan partisipasi masyarakat termasuk Pemerintah Desa sebagai ujung tombak keberhasilan upaya pencegahan stunting di desa yang secara langsung akan berdampak pada penanggulangan kemiskinan.

Dikatakan pula masyarakat harus ditingkatkan peran dan kapasitasnya dalam melakukan fungsi-fungsi fasilitasi (pendataan dan pemantauan)  dan advokasi (koordinasi, konvergensi dan regulasi) pencegahan stunting di desa.

Untuk maksud itu,  YPII melakukan penguatan kapasitas stakeholder utama di desa yang dapat berbagi peran dalam upaya pencegahan penanganan stunting.

“Hari ini dan besok kita bersama mendapat pengarahan, masukan dan diskusi bersama terkait apa yang bisa kita lakukan. Langkah selanjutnya tugas bersama kita adalah para stakeholder yang terlibat disini baik Bidan Desa, Kader Posyandu, Kader BKB, PKK Desa, Kelompok Dasawisma, Remaja Putri, BPD dan Pemerintah Desa kita coba melibatkan semua” harapnya.

Keberhasilan bukan karena  semakin terampil atau sudah semakin paham kita tentang upaya pencegahan stunting akan tetapi bagaimana keluarga-keluarga dampingan kita bisa keluar dari zona tidak nyaman. Karena itu ia sangat berharap agar peserta terlibat secara aktif dan berharap ketika kembali bisa menerapkan pada keluarga dampingan sesuai dengan tugas masing-masing.

“Setelah kegiatan ini pengetahuan dan keterampilan yang lebih baik bisa kita bawa pulang, bisa dampingi keluarga-keluarga kita agar tidak ada lagi yang terjadi stunting (Zero New  Stunting).

Sedangkan Ketua Tim PKK Kabupaten Nagekeo dr. Eduarda Yayik Pawitra Gati Sp.M dalam kesempatan tersebut menyampaikan terimakasih kepada Plan International Indonesia Flores yang telah menyelenggarakan giat ini.

“Menurut saya ini sangat penting dan terima kasih kepada Plan karena telah menghadirkan para stakeholder yang sudah terpilih dan diidentifikasi di 4 desa. Semua stakeholder mudah-mudahan hadir lengkap  disini. Karena ada yang harus dilakukan di desa kita masing masing” ungkapnya.

Sebagai Ketua Tim PKK Kabupaten Nagekeo beliau berharap agar para stakeholder bukan sekedar melakukan pendampingan semata akan tetapi bisa menjadi contoh  bagi masyarakat khususnya keluarga dampingannya.

Menurut Yayik, sebagai Ketua Tim Penggerak PKK saya ikut berkunjung ke desa dan melihat bahwa faktor-faktor penyebab gizi kurang, gizi buruk itu bukan hanya faktor kurang makan atau kurang gizi, itu tidak.

“Kita prihatin,  karena ketika kita berpikir bahwa yang rawan itu adalah mereka yang berekonomi kurang ternyata tidak. Bahkan keluarga-keluarga yang dianggap mampu punya intelektual, kecerdasan rumah tangganya cukup ternyata anaknya stunting” ungkapnya.

Menurutnya, ini adalah faktor yang sangat kompleks yang saya titipkan  pada bapak ibu sekalian. “Bagaimana kita menjadi contoh  di desa masing – masing, bukan hanya sekedar  pendampingan tetapi bisa menjadi contoh remaja putri yang hadir disini minimal HBnya diatas 13,  merencanakan kehamilan dengan baik dan ketika punya anak, apa saja yang bisa kita siapkan  dan ketika kita menitipkan anak di pengasuh harus dipastikan anak kita dirawat dengan baik” jelasnya.

Ia menyampaikan, apa yang bisa kita contohkan itu mulai dari diri sendiri baru bisa mencontohi orang lain dan baru bisa menjadi pendamping. Menjadi contoh tidak perlu sempurna paling tidak kita melakukan hal kecil seperti ini.

Kepada Plan diharapkan kedepan dalam kegiatan seperti ini bisa  menghadirkan  pula keluarga dampingan untuk memberikan kesaksian terkait upaya pencegahan stunting ini.

“Yang dinilai bukan outputnya tetapi untuk monitoring berikutnya adalah keluarga dampingan. Hal apa saja yang berubah setelah adanya pendampingan dan evaluasi. Bukan hanya sekedar mendampingi, sekedar kertas membuat data pelaporan tapi mari kita menjadi pelaku contoh panutan dilingkungan kita sesuai dengan peran kita masing-masing” harapnya.

Bupati Nagekeo Johanes Don Bosco Do saat membuka kegiatan Penguatan Kapasitas Stakeholder terkait Upaya Pencegahan Penanganan Stunting Berbasis Keluarga lebih kedepankan soal bagaimana menghadirkan kehidupan baru yang normal nya melalui lembaga perkawinan.

Hal ini penting sekali dan diupayakan Bulan Agustus saat kegiatan operasi timbang agar masalah ini diperhatikan dan dielaborasi betul melalui Program Dinas Kesehatan dan  pendekatan Dasawisma agar bisa teridentifikasi.

“Ketika ada keluarga yang ogah-ogahan memelihara kehidupan, bidan bisa pantau lewat kantong bersalin. Tugas kita adalah menyiapkan fasilitas  ketika kobe leza mai (besok lusa), semuanya sudah siap.

Menurut Bupati Don, kehamilan pada remaja putri yang tidak siap dan La’a Sala (salah jalan/hamir diluar nikah) juga merupakan kehamilan yang tidak dikehendaki atau kehamilan yang  tidak dipersiapkan.

Bupati Don  berharap Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana  dibantu PLAN  melakukan riset/studi di desa-desa lokus stunting.

“Karena itu, saya ingin ingatkan kita semua  harus  betul-betul bisa menganalisis keadaan sosial kita, potensi- potensi apa, lingkungan, budaya apa yang membuat ini subur. Ini pekerjaan besar kita terutama para pemimpin yang berada di ruangan ini,” harapnya. Protkompim (Merry / Tim Humas NK)

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2022 Pemerintah Kabupaten Nagekeo. All Right Reserved.

Hits: 53

Translate »