Mahasiswa STKIP Citra Bhakti Ngada Kunjungi Kampung Adat Wajo

Wajo, nagekeokab.go.id – Sebanyak 16 mahasiswa STKIP Citra Bakti Ngada, program studi Pendidikan Musik semester VI, melakukan kunjungan ke kampung adat Wajo Kecamatan Keo Tengah, Kabupaten Nagekeo, Flores NTT pada Sabtu 25 Juni 2022.

Kunjungan di bawah bimbingan dosen pengampuh, Pelipus Wungo Kaka M.Pd ini merupakan bagian dari pemenuhan tugas mata kuliah Pedidikan Jurnalistik serta bahan referensi pembelajaran bagi mahasiswa.

Mira Lewa salah satu mahasiswa mengatakan, selama berada di sana, mereka dipandu oleh kepala suku Wajo Arnoldus Jogo dan seorang mahasiswa asal Wajo Mari Angelina So’o untuk melakukan wawancara banyak hal salah satunya adalah terkait musik ndoto sebagai musik tradisi setempat.

Mahasiswa juga kata Mira, diberi kesempatan untuk memasuki rumah adat yang berada persis di tengah Kampung tersebut.

“Sebelum memasuki Rumah adat semua atribut (hp, kamera dll) harus dibuat seremonial oleh ketua suku dan diucapkan menggunakan bahasa leluhur” ungkap Mira.

Pada saat memasuki rumah adat, mahasiswa diberi pentujuk bagaimana menjaga sikap, tindakan dan suasana dalam menjaga dan menghargai benda benda di dalam rumah adat seperti patung, batu dan benda-benda lain dan apabila melanggar larangan tersebut maka terjadi malapetaka dan sudah dibuktikan kejadianya.

Ketua Suku Arnoldus Djogo menerangkan bahwa, Ndoto diartikan bambu yang dipilih dan diritualkan kemudian dipotong satu ruas.

Bambu yang sudah dipotong kemudian dibuat dua lubang di tengah untuk menghasilkan bunyi dengan cara dipukul.

Selanjutnya, bambu tersebut dibawah dan disimpan di luar kampung adat dan hari selanjutnya di pindakan kedalam kampung adat.

“Alat musik ndoto dibuat pada bulan Maret. Alat musik ndoto ini dimainkan pada saat ritual Bhei Uwi, yang dimainkan oleh keenam suku yaitu suku Embulau, Embumbani, Kotomena, Kotoradhe, Jemu Dhedhe Wawo dan suku Jemu Dhedhe Wena yang dilaksanakan setiap setahun sekali (Pada bulan Juli read-) ” jelas Arnoldus.

Ritual Bhei Uwi yang berarti mencari ubi di kebun dan disimpan di dalam rumah adat. Selanjutnya ubi tersebut direbus menggunakan kayu dari alat musik ndoto. Setelah masak ubi disajikan untuk perjamuan bersama anggota keenam suku.

Arnoldus menambahkan, makna dari alat musik ini ialah sebagai penyemangat, yang artinya menumbuhkan semangat disaat bekerja, bergotong royong membangun rumah adat. (RSN/Sevrin)

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2022 Pemerintah Kabupaten Nagekeo. All Right Reserved.

Hits: 777

Translate »