Sekilas Nagekeo

Sejarah Nagekeo

Kabupaten Nagekeo telah melaksanakan pemerintahan mandiri sejak tahun 2007 yang ditetapkan oleh UU No.2 tahun 2007 oleh Penjabat Mendagri Widodo A.S.  sejak saat itu Kabupaten Nagekeo dengan seluruh jajaran satuan kerja pemerintah daerah bersinergi membangun untuk kemajuan daerah dan masyarakat. Sehingga dalam kepemimpinan periode 2018 – 2023 yang dipimpin oleh Bupati John Don Bosco Do dan Wakil Bupati Marianus Waja mengedepankan aspek birokrasi yang bertangungjawab, madani, dan melayani masyarakat sesuai visi misi Bupati Nagekeo 2018-2023 yaitu mewujudkan masyarakat Nagekeo yang sejahtera, nyaman dan bermartabat melalui sektor pertanian dan pariwisata.

• Bentuk lambang
Bentuk lambang Kabupaten Nagekeo “ Perisai “ yang melambangkan kelima Sila
Pancasila sebagai Dasar Negara

Warna dan isi lambang :
Warna yang dicantumkan pada Logo Daerah mempunyai makna:
1. Kuning adalah warna yang khas bagi masyarakat Nagekeo, melambangkan keagungan dan kebesaran.
2. Hitam adalah warna yang khas bagi masyarakat Nagekeo, melambangkan kekuatan
3. Merah melambangkan keberanian dan keteguhan dalam perjuangan
4. Putih melambangkan kesucian, ketulusan dan kejujuran
5. Biru melambangkan indahnya cita-cita masyarakat
6. Hijau melambangkan harapan yang merupakan latar belakang terbentuknya
Kabupaten Nagekeo

• Arti gambar lambang
Lambang Kabupaten Nagekeo berisi :
1. Perisai melambangkan kelima Sila Pancasila sebagai Dasar negara
2. Bintang sebagai simbol kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang diyakini sebagai Penyelenggara Kehidupan bagi umat manusia
3. Peo sebagai simbol kultural sosial budaya Nagekeo yang khas karena dari Peo yang dilihat dan biasa ditanam di tengah kampung merupakan simbol persekutuan dan tata kehidupan masyarakat Nagekeo
4. Gunung adalah gunung berapi aktif yang melambangkan dinamika masyarakat Nagekeo dan mengandung arti menyimpan potensi kesuburan
5. Rantai melambangkan keeratan persatuan dan kesatuan
6. Persawahan melambangkan sumber mata pencaharian di Kabupaten Nagekeo yang pada umumnya adalah petani
7. padi dan kapas simbol kesejahteraan masyarakat Indonesia, Jumlah kapas delapan (8) kuntum melambangkan tanggal terbentuknya Kabupaten Nagekeo sedangkan jumlah padi dua belas (12) bulir melambangkan bulan terbentuknya Kabupaten Nagekeo
8. Angka 2006 sebagai angka tahun terbentuknya Kabupaten Nagekeo
9. Batu dasar Peo melambangkan tempat musyawarah mufakat yang biasa digunakan masyarakat Nagekeo dan
10. pita merah putih bertuliskan Kabupaten Nagekeo merupakan sebutan nama sebuah Daerah Otonom Kabupaten Nagekeo dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia

Lambang Kabupaten Nagekeo

Letak Geografis

Kabupaten Nagekeo terletak di antara 8º26΄00΄ – 8º64΄40″ Lintang Selatan dan 121º6΄20″ – 121º32΄00″. Luas wilayah Kabupaten Nagekeo 1.416,96 km². Utara berbatasan dengan Laut Flores, Selatan dengan Laut Sawu, Barat dengan Kabupaten Ngada dan Timur dengan Kabupaten Ende. Kabupaten Nagekeo merupakan Kabupaten baru sebagai pemekaran dari Kabupaten Ngada, yang diresmikan pada tanggal 22 Mei 2007, melalui Undang – undang Nomor 2 tahun 2007. Pemerintahan dan komunitas Nagekeo sudah ada sejak masa Pemerintahan Hindia Belanda sekitar tahun 1909. Kabupaten Nagekeo memiliki 7 Kecamatan (Aesesa, Boawae, Mauponggo, Keo Tengah, Nangaroro, Wolowae dan Aesesa Selatan).

Kabupaten Nagekeo tergolong daerah yang beriklim tropis dan terbentang hampir sebagian besar padang rumput yang ditumbuhi pepohonan seperti kemiri, asam, kayu manis, lontar, mahoni, sengon, jati,dsb serta kaya dengan fauna antara lain hewan – hewan besar, hewan kecil, binatang menjalar dan binatang liar. Kabupaten Nagekeo bertopografi dari dataran, berbukit sampai gunung-gunung, dengan puncak tertinggi pada gunung Ebulobo ± 2.149 meter dpl.

Kemiringan lahan yang berpotensi untuk pengembangan tanaman pangan dengan persentase 0% sampai dengan 15% seluas 27.071 ha atau 22 % dari luas wilayah yang sebagaian besar belum mempunyai irigasi teknis yang  memadai. Sungai  Aesesa  dengan  debit  +7 M3/detik pada musim hujan dan +3 M3/detik pada musim kemarau merupakan sumber irigasi utama pada areal persawahan Mbay yang juga merupakan pusat Pemerintahan Kabupaten Nagekeo.

Iklim di Kabupaten Nagekeo cenderung ekstrim dengan rata-rata 4 (empat) bulan basah yaitu bulan Oktober sampai dengan Januari dan 8 (delapan) bulan kering yaitu bulan Pebruari sampai dengan September. Struktur tanah umumnya adalah vulkanis muda, dengan klasifikasi tanah terdiri dari Mediteran, Latosol, Litosol dan Aluvial.

Data Demografi

Peta Kabupaten Nagekeo

Hits: 111

Translate »